“It’s not just getting a goal that matters, but the quality of life you experience along the way.”
Tony Robbins
Basel yang merupakan kota terbesar nomor tiga di Switzerland setelah Zurich dan Geneva terletak di pertemuan antara perbatasan Germany, Perancis dan Switzerland. Kotanya tetap mempertahankan bangunan classic diantaranya Basel Minster dengan paduan gaya Gothic dan Romanesque.
Cuaca pagi itu terasa agak beku walaupun mentari bersinar dengan cerah menemani langkah saya dan Michael. Saya meloncat ke kiri dan ke kanan ditemani oleh gelengan kepala Michael yang tak habis pikir darimana saya sudah punya tenaga untuk berlarian di sunyinya suasana pagi.
===================================
“Michael, kalau di Indonesia jam segini sudah ada suara klakson tukang roti, denting mangkuk bubur ayam dan deru mesin kendaraan saling menyalip.”
“Di negara saya juga sudah ada suara lengkingan orang saling bersahutan menjajakan dagangannya.”Michael tertawa lebar.
“Ayo, kita beli Cappuccino di cafetaria. Saya sudah menyiapkan banyak coin.” Saya menggoyangkan dompet dan terdengar dentingan tumpukan suara coin.
“Coffeenya murah sekali, padahal kampus di Swiss, salah satu negara termahal di dunia. Rasanya ingin membawa pulang espresso machine-nya yah, Sarah.”
Sesampai di kampus , saya berlari kecil dan Andy salah satu teman kampus sedang duduk menikmati coffee.
“Good morning Andy, wangi coffeenya sudah tercium dari jauh.Serasa high quality coffee yah.” Saya menghirup wangi coffee dari gelas Andy.
“Memang ini coffee berkualitas, machine-nya pun sangat mahal karena salah satu merk terbagus saat ini, import langsung dari Italia. “
“Really ?” Michael dan saya hampir terceguk mendengar harganya.
“ Kami kira murah karena harga per cup-nya murah sekali.”Michael ikut menghirup wangi dari cangkir coffee di tangan saya.
“Di Swiss termasuk di kampus ini sangat mengutamakan kebahagiaan penduduknya dibandingkan profit sehingga mereka invest the best dengan low cost untuk semuanya, termasuk student seperti kita.” Andy menjelaskan dengan lugas mengenai negaranya dengan wajah bangga.
“We shouldn’t measure everything in terms of GDP figures or economics. There is something called quality of life.”
Nigel Farage

