“Kindness doesn’t wait for the right time, it becomes the time.”
Ibu muda itu memeluk tas kain perca itu erat dan jemarinya menelusuri jahitan lembut seolah ingin mengingat kehangatan yang ikut terjahit di dalamnya. Ada sesuatu yang hening namun hangat di wajahnya.
Untuk beberapa saat, ia terdiam. Di sekeliling mereka, riuh suara kembali memenuhi udara, mulai dari langkah kaki, tawa hingga suara kantong kertas yang berdesir. Namun di antara keduanya, masih ada jeda yang tenang.
Mbak Patsy hanya tersenyum, merapikan beberapa kalung di meja yang sedikit bergeser. Di sampingnya, terlipat rapi baju dari kain batik milik dari exporter yang lain.
Ibu muda itu memperhatikannya, lalu berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Jarang sekali bertemu orang yang memberi tanpa berpikir panjang.” Mbak Patsy tertawa kecil dengan tawa lembutnya yang khas.
Kebaikan bergerak paling indah ketika tidak menunggu waktu yang tepat. Pada akhirnya, yang membuat manusia saling terhubung adalah ketulusan yang mengalir di antara niat dan tindakan.
Jauh setelah meninggalkan booth, ia tidak hanya membawa tas kain di bahunya, tetapi juga sesuatu yang lembut kini menetap di hatinya
Ternyata kebaikan tidak pernah menunggu waktu yang tepat, justru kebaikanlah yang menjadikan setiap waktu terasa tepat.
“Kindness doesn’t look at the clock, it looks at what’s in front of it.”
Part 4.

