0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“In the language without sound, affection speaks fluently.”

 

Langit kian biru, dihiasi awan dengan gradasi tembaga yang menyelimuti ujungnya. Udara pegunungan di Makale membawa embusan tipis kabut yang melayang di antara pepohonan pinus, berdiri rapat bagaikan pagar alami.

 

Aroma getah pinus, tanah basah, dan sisa hujan semalam berpadu menjadi wangi yang membuat dada terasa tenang. Tetesan air dari embun pagi masih bertahan di kaca mobil sebelum perlahan lenyap oleh hangatnya sinar mentari.

 

Saya membuka jendela untuk membiarkan angin masuk karena udaranya terasa lebih segar dibandingkan terpaan AC. Seketika angin membelai wajah Sophie yang duduk tepat di samping jendela hingga rambutnya agak berantakan.

 

Ia tertawa kecil sambil menunjuk seekor burung yang melayang jauh di atas lembah. Chris sempat melirik ke arahnya, lalu menoleh sekilas melalui kaca spion mencari Chloe.

 

Senyum samar namun hangat muncul saat melihat Chloe sudah bisa tersenyum. Di kursi depan, Nigel duduk diam, matanya mengikuti setiap tikungan jalan.

Tak lama, Nigel menoleh ke bangku paling belakang untuk mencari Chloe. Sophie ikut menoleh tanpa sadar, menatap kakaknya yang masih bersandar dengan senyum yang perlahan merekah.

 

Sepanjang perjalanan, Chris, Nigel, dan Sophie seakan saling menjaga dalam diam. Tanpa kata, namun cukup bagi Chloe untuk merasakannya.

 

“Some care is too quiet to name, yet the heart still hears it.”

Part 4.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!