“Goodness isn’t always something we create. Sometimes it comes from another soul and drifts back into our lives at the right time.”
“Mbak Pats, aku jadi ingat waktu pameran SIJE di Singapore. Ada ibu yang juga datang dengan kursi roda dan langsung memborong semua koleksi jewelry aku tanpa menawar.” Mbak Patsy tersenyum dan mengangguk pelan.
Malam sebelum keberangkatan terbayang lagi. Koper terbuka di lantai kamar dan dipenuhi horn jewerly yang sudah saya susun rapi satu per satu. Entah mengapa, hati terasa berat seperti ada ruang kosong yang tidak bisa saya isi.
Biasanya Chloe atau Sophie ikut menemani. Waktu itu mereka masih di primary school jadi izin beberapa hari tidak menjadi masalah. Kali ini berbeda karena ada kegiatan volunteer di sekolah yang tidak ingin mereka lewatkan.
Pagi di Singapore terasa seperti percampuran antara semangat dan kehilangan kecil. Aula pameran masih sepi dan suara langkah berpadu dengan gemerincing lampu crystal tidak segemerlap biasanya karena hati saya sedang redup.
Keesokan harinya, saat booth baru dibuka, seorang pembeli datang bersama beberapa staff. Ia ternyata keluarga Marcos asal Filipina dan tanpa ragu membeli seluruh koleksi yang saya pajang, termasuk yang masih tersimpan di dalam koper.
Saat memandangi meja pameran yang tiba-tiba kosong, wajah anak-anak muncul dalam ingatan. Mungkin kali ini bukan saya yang memberi kebaikan, tapi mereka dengan keputusannya untuk melakukan volunteer di sekolah.
Ternyata kebaikan tidak selalu dimulai dari tangan kita. Kadang kebaikan kecil yang dilakukan anak-anak menjadi pancaran lembut yang kembali kepada kita tanpa diminta.
“Not every kindness begins with us. Sometimes the compassion of someone we love becomes a quiet reflection returned to our lives.”
Part 14.

