“There is wisdom in leaving a story rough around the edges.”
Saya mengamati Sophie, menunggu ia menepis cerita itu atau menertawakannya tapi ia tidak melakukannya.
Laki-laki itu kembali tersenyum kecil, bukan karena lucu tapi karena merasa dimengerti.
“I’ve been there too. That’s the part people skip. You don’t keep going because you’re inspired. You keep going because stopping isn’t really an option.”
Perempuan di sampingnya mengangguk pelan dan menengok ke Sophie. “And saying it was hard doesn’t mean you missed the point. It just means you were honest while it was happening.”
Angin kembali melintas di deck. Ferry membelah ombak yang tidak rapi. Sumatra kini berdiri jelas di depan kami dan bukan lagi garis tipis di kejauhan.
“Only later, when you’re already past it, you call it a lesson. That’s perspective talking. In the moment, it’s messy. Draining.”Tourist laki-laki menambahkan.
Saya menangkap maksudnya tanpa perlu banyak kata. Tidak semua hal perlu dipoles agar terdengar indah. Kadang, yang paling jujur justru lahir dari pengalaman yang kita lewati apa adanya, tanpa perlu dibuat manis.
“Some moments shape us simply because we lived through them.”
Part 26.

