0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“True growth isn’t about claiming space, but about gently filling the empty places with presence, without force.”

 

Sophie mengangguk pelan, seolah menggulung kalimat itu dan menyimpannya di kantong kecil imajinasinya, bersama bunga, angin pagi, dan mungkin juga sebutir rasa ingin tahu yang belum sempat tumbuh sepenuhnya.

 

Lalu ia bertanya, suaranya nyaris larut dalam desir angin. “Mama, what’s it called? This flower?” Saya menunduk, ikut menatapnya. Bunga itu bukan milik pot bunga di beranda, bukan yang diselipkan di balik telinga atau dimasukkan ke dalam vase kaca.

 

Ia tak hadir dalam kartu ucapan juga tak diabadikan dalam bingkai. Tapi ia ada, dengan cara yang tenang, humble, namun tak kalah mencolok bila kita benar-benar mau melihatnya.

 

Ada keteguhan dalam caranya tumbuh. Ia merambat perlahan di sepanjang jalan, memeluk batu dan terbungkus debu, menolak untuk dibatasi oleh ruang yang ditentukan manusia.

 

Kelopaknya menggantung malu-malu, ungu lembut dengan semburat putih di pangkalnya, seperti cerita yang hanya diketahui oleh angin pagi. “Ini namanya bunga kudzu, sayang,” jawab saya, nyaris berbisik, menyesuaikan diri dengan keheningan yang dibawa oleh bunga kecil itu.

 

Saya mengamati sulur tanaman perambat itu, yang tak memilih tempat mewah untuk tumbuh. Ia merambat di celah-celah tanah, perlahan menembus antara retakan beton dan rumput liar.

 

Kelopaknya tergantung ringan, ungu lembut, dengan sentuhan putih yang mengalir tipis di permukaannya. Tanpa suara, ia menyelimuti yang kosong, bukan untuk menguasai, tapi karena tumbuh adalah caranya bertahan. Seolah berbisik pada dunia yang sibuk lewat, I’m still here.

 

“To grow is not to claim space, but to quietly fill what’s empty, just by being.”

Part 19.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!