0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“We suffer more often in imagination than in reality.” Seneca

 

Suasana lounge tetap tenang. Cahaya mentari menyaring masuk dari jendela dan memantul lembut di permukaan meja. Orang-orang berbicara pelan di kejauhan dan sumpit kayu beradu ringan dengan piring.

 

Ia menyesap ocha teanya perlahan lalu menatap saya sejenak. “It sounds harsh, doesn’t it? But maybe it just gives you perspective.”  Perspective. Satu kata sederhana namun terasa lama menggantung di antara kami.

 

Dulu, saat masih di Swiss, saya sering merasa hidup terlalu keras. Rindu kampung halaman terasa berat. Jadwal kuliah padat. Salju turun tanpa kompromi dan seolah menegaskan bahwa saya jauh dari rumah.

 

Waktu itu saya benar-benar percaya yang membuat menderita adalah jarak dan tumpukan tugas. Namun duduk di lounge itu, kini terlihat berbeda. Rasa lelah itu bukan hanya soal keadaan.

 

Sebagiannya datang dari pikiran saya sendiri. Dari harapan bahwa hari akan melambat saat saya kewalahan dan dunia akan memberi ruang extra ketika saya belum siap.

 

Padahal mentari tetap terbit seperti biasa. Jadwal tetap berjalan dan teman-teman campus tetap sibuk dengan urusan mereka.

 

Oh well, dunia tidak sedang melawan saya waktu itu. Ia hanya berjalan seperti biasa. Yang berubah ternyata bukan arahnya melainkan cara saya melihatnya.

 

“If you are distressed by anything external, the pain is not due to the thing itself, but to your estimate of it.” Marcus Aurelius

Part 12.

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!