“I can do things you cannot, you can do things I cannot; together we can do great things.” – Mother Teresa
Setelah kelas selesai , saya dan Xavier berlari kecil menuju parkiran hospital yang berada tepat di depan kampus kami, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. Terlihat Daniel dan George sudah menunggu didalam mobil dan kami segera melompat di kursi belakang.
“Hey Dan , Hey George, sudah lama menungu yah ?”
‘It’s okay, saya membawakan rooibos tea favorite kamu. Ini, masih hangat.” Daniel menyodorkan termos dan saya sambut dengan gembira.
“Wah termosnya so adorable, matching dengan warna bola mata kamu yang hazel. Xavier, kamu pasti juga haus, kita share yah. “
“Saya juga haus, Sarah.” George menoleh kebelakang sembari berdehem.
“Oh okay ,setelah Xavier , kamu dan terakhir saya.” Mulai menuangkan tea ke tutup termos secara perlahan agar teh tersebut cukup untuk kami bertiga.
“ Daniel , Apakah boleh visitor yang bukan keluarga masuk ke sana ?”
“ Saya adalah lawyernya jadi ada pass masuk. Kalian juga sudah saya isikan visitor form . Nanti akan ada unit K-9 juga yang akan search kita jika diperlukan.”
“K-9 itu unit dengan anjing pelacak kan , Dan ?”Saya bertanya dengan nada penasaran.
“Yes. Nanti tidak boleh ada any electric devices termasuk handphone. Kalau mau foto didalam ada photographer, tugasnya memang membantu yang ingin foto dengan keluarga mereka.” Daniel menerangkan layaknya dosen di mata kuliah hukum.
“Saya tidak akan berani melanggar peraturan. Jika melanggar I will most likely be arrested and I could face my own felony charges. Oh ya bisa berhenti sebentar di post office , saya ingin memasukkan ini di blue collection box.”
Menunjukkan postcard yang ditujukan untuk diri sendiri di Indonesia.
“Saya koleksi stamp sehingga saat pulang ke Indonesia, tumpukan post card dari semua negara yang pernah saya kunjungi sudah menunggu beserta koleksi stamp yang tentunya sudah menempel di kartunya.” Melepas senyum lebar melihat mereka mengeryitkan kening mendengar ide yang terlalu kreatif sehingga terdengar aneh.
Saat berjalan menuju kembali ke mobil, seorang African American menghampiri karena mengira saya sendirian dan berkata “Hola hermosa, hablas español?”
George segera keluar dari mobil hingga lelaki tersebut kaget dan segera berjalan menjauh.
“Are you okay , Sarah ? “
“Yes it’s okay, dia mengira saya Spaniard. Hidung saya memang mancung tapi mancung ke dalam. Apa perlu saya beritahu kalau saya bukan orang Spanyol ? ” Saya berkomentar dengan mengulum senyum.
“Percuma kamu menerangkan panjang lebar , apalagi jika memberitahunya hanya dengan membuka jendela mobil sedangkan dia posisinya berdiri di pinggir jalan.” George menerangkan.
“ Bagaimana caranya agar dia mendengarkan omongan saya ? “
“Kamu harus turun dari mobil dan berdiri di pijakan yang sama dengannya. Jika itu kamu lakukan, setiap barisan kata yang kamu keluarkan akan lebih mudah dicerna olehnya.” George menerangkan lalu meraih rooibos tea yang saya sodorkan dan dihabiskan dalam sekali tegukan.
“Exactly, demi menyentuh mereka secara langsung , saya , George dan Joaquín terjun langsung hingga ke grassroots community di Baltimore, bukan koar-koar dari kantor kami yang megah di Washington.”
“Joaquín ?”
“Sahabat kami yang juga dari Washington. Daniel sebagai lawyer, Joaquín sebagai psikolog dan saya sebagai psikiater berkolaborasi membantu masyarakat di Baltimore.” George kembali menerangkan secara singkat.
“Nanti ketemu, dia lagi sesi konsultasi dengan beberape inmates. By the way, rooibosnya masih ada ? Sedikit saja, tenggorokan saya kering.”
Daniel mengelus leher dengan suara agak serak.
“Sure, dont worry tea-nya masih banyak. ” Sembari menyodorkan tanpa memberitahu kalau itu jatah saya karena ternyata teh di dalam termos sudah habis tak bersisa.
“Remember, change can only come through collaboration, Sarah. Itu juga yang saya lakukan bersama teman-teman saat terjun langsung membantu di Port-au-Prince, Haiti.” Xavier menambahkan.
Penggalan kisah tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya kolaborasi dan turun gunung membersamai para ibu-ibu tangguh secara langsung.
Dear me, jangan memberikan saran untuk mengejar mimpi setinggi bintang di langit jika posisi kamu masih di atas gunung. Kita sudah diberi kesempatan lebih dahulu oleh Allah merasakan kehangatan mentari, mari kita turun gunung membantu mereka disirami cahaya mentari yang sama.
Remember, collaboration is multiplication.
“Collaboration is about compassion, love, support, kindness, and the power that we gain when we share with each other and lean on each other.”
Unknown
June 1st, 2022



