“Children who grow up feeling safe in their own skin are the ones who don’t need the world’s approval to feel complete.”
Angin pagi menyapu pelan wajah saya lewat celah jendela dan di samping saya, Sophie mulai terlelap, dengan napas kecil yang teratur dan tangan mungilnya masih menggenggam jari saya dengan lembut, seolah tak ingin lepas dari hangat yang ia telah kenal sejak lama.
Saya memandang ke luar, menatap jalan yang terus kami lalui, dan entah kenapa, pikiran saya melayang pada hal-hal yang tak terlihat tapi sering kita kejar yaitu pengakuan, sorotan, atau bahkan keinginan untuk dikenang.
Betapa seringnya, tanpa disadari, kita menakar nilai diri dari seberapa banyak mata yang memperhatikan atau seberapa riuh dunia memberi tepuk tangan. Kita tumbuh dikelilingi oleh suara-suara luar seperti komentar, pujian, dan penilaian.
Lambat laun, kita bisa lupa bahwa ukuran diri yang paling jujur bukan datang dari luar, melainkan dari ketenangan yang muncul saat kita sendiri. Saat tak ada yang menonton, namun hati tetap merasa cukup.
Namun pagi itu, saat melihat wajah mungil Sophie, ada kesadaran yang perlahan mengendap. Anak-anak tidak mencari sorotan. Mereka hanya ingin tahu bahwa ada satu tempat di dunia ini di mana mereka merasa cukup, tanpa syarat. Tempat itu bukan panggung, tapi genggaman.
Genggaman hangat yang memberikan perasaan aman yang datang dari cinta yang tak harus dibuktikan. Meski dunia di luar sana terus melaju, dalam keheningan ini, di samping saya, seorang anak sedang belajar sesuatu yang paling mendasar, bahwa ia dicintai, bahkan saat tak ada yang melihat.
Mungkin itulah bekal paling kuat, agar kelak ia tak tumbuh dengan haus akan validasi, tapi dengan langkah yang mantap. Bukan karena dunia mengarahkannya, tapi karena hatinya lebih dulu tahu bahwa ia berharga.
“Shower your child with attention, and make her feel secure in your love. This way she won’t grow up starved for other people’s acknowledgment.” Haemin Sunim
Part 32.

