“Man is not disturbed by things, but by the views he takes of them.” Epictetus
Saat saya dan Mbak Patsy melangkah lagi, perut sudah mulai kompromi tapi rasa penasaran justru semakin kuat. Di deretan kios berikutnya, terlihat sebuah gerobak kecil yang menyajikan makanan laut dalam mangkuk sekali pakai.
Udang yang sudah direbus mengilap seperti baru diangkat dari air panas, telur puyuh matang dan kerang masih dengan cangkangnya, semuanya terlihat manis dengan beralaskan daun sawi putih.
Semua tertata rapi, siap disantap dan hanya menunggu kuah panas disiramkan. Saya menoleh ke sekeliling dan baru sadar, hampir semua kios di sisi itu menawarkan aneka makanan segar dengan versi berbeda tapi tetap serupa.
Kami kembali tertawa karena mencari makanan halal untuk saya dan pilihan non-ayam untuk Mbak Patsy ternyata bukan sekadar soal makanan, tapi menjadi sebuah petualangan kecil.
Setiap kios, setiap aroma, bahkan setiap kios dengan aneka menu makanan dan minum yang unik, justru menambah cerita dan tawa di tengah keramaian.
Melihat jalanan yang belasan kilometer panjangnya dengan ratusan kios berderet tanpa putus, saya justru terkejut bahwa kami bisa melewatinya tanpa rasa pegal. Yang ada hanya tawa yang terus muncul di antara langkah.
Saat itu saya mengerti bahwa kesulitan sebenarnya tidak membuat perjalanan menjadi berat. Perjalanan berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan ketika kita memilih untuk menikmatinya, bukan menganggapnya sebagai beban.
“The greatest weapon against stress is our ability to choose one thought over another.” William James
Part 38.

