0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“You don’t have to cross oceans to feel like you’ve arrived somewhere else.”

 

Saya dan Michael melangkah masuk ke dalam tram nomor 8 dari Barfüsserplatz. Kursinya masih dingin disentuh, dan jendela-jendelanya berkabut tipis, menahan sisa embun pagi yang belum sepenuhnya menyerah pada mentari.

 

Di dalam, suasananya tenang tapi hidup. Seorang ibu muda mengayun perlahan kereta bayinya, matanya lelah namun penuh kelembutan. Seorang pria tua membaca koran dengan kacamata yang terus melorot, sesekali tersenyum kecil pada berita yang hanya dia yang tahu lucunya.

 

Sebagian besar penumpang adalah warga Basel yang terbiasa melintasi batas negara tanpa merasa seperti benar-benar pergi. Di kota ini, perpindahan tak selalu berarti perpisahan. Perjalanan singkat ke Weil am Rhein bukan sekadar soal geografis, tapi soal kebiasaan yang diam-diam membentuk ritme hidup.

 

Michael duduk di sebelah saya, matanya mengikuti pemandangan yang perlahan berubah: dari bangunan classic khas Swiss ke rumah-rumah sederhana yang menyambut kami di sisi Germany.

 

Di dalam tram yang bergerak pelan menuju perbatasan, saya sadar, justru dalam perjalanan-perjalanan pendek seperti ini, kita mengerti bahwa batas yang paling nyata bukan terletak pada garis di peta, melainkan pada cara kita memaknai langkah kecil dalam keseharian.

 

Weil am Rhein bukan sekadar titik akhir dari sebuah rute,  ia adalah ruang transisi yang akrab. Tempat orang-orang Basel keluar sejenak dari rutinitas, untuk membeli roti, atau hanya untuk merasa “di tempat lain” tanpa benar-benar meninggalkan rumah.

 

Terkadang kita tak perlu pergi jauh untuk merasa bergerak. Cukup melangkah sedikit dan cukup bergeser pandang, sebab yang kita cari bukan pelarian, tapi cara baru untuk melihat hal-hal lama, dari sisi yang selama ini mungkin tak kita perhatikan.

 

“Not every journey spans miles, some unfold in the gentle shift of our daily rhythm.”

Part 10.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!