“True rhythm is found when you move for yourself.”
Saya melihat ocha tea di cangkir sudah habis lalu berdiri dan melangkah ke arah coffee machine.
Saat menekan tombol, aroma café latte yang baru mengalir langsung tercium, hangat serta lembut dan mengepul tipis ke udara lounge yang tenang.
Saya kembali duduk dan menyesap perlahan, merasakan creamy-nya yang menenangkan, sedikit pahit tapi lembut, berbeda dengan coffee hitam yang pekat.
Setiap tegukan seolah mengingatkan bahwa hidup kadang getir dan kadang lembut tapi kita tetap terus berjalan meski belum sepenuhnya siap.
Suasana hangat lounge, denting cangkir yang bersahutan dan coffee machine yang berdengung pelan menambah ritme familiar hingga membuat saya merasa nyaman untuk menyelami pembicaraan sebelumnya.
Mungkin benar bahwa terkadang kita berharap orang lain melihat perjuangan kita atau memberi pengakuan.
Namun seperti menikmati café latte ini, hangat dan menenangkan saat di genggam, kita bisa belajar menemukan kehangatan rasa itu sendiri tanpa menunggu persetujuan orang lain.
Wanita itu menatap lembut tapi tajam. Saya tersenyum saat menyadari bahwa langkah terasa lebih ringan ketika kita berhenti menunggu validasi dari orang lain.
“Quiet confidence grows where approval is absent.”
Part 15.

