“Our journey isn’t defined by the miles we walk, but by the values we carry along the way.”
Tujuan berikutnya adalah membeli daging di salah satu Turkish market yang menjual daging halal di Weil am Rhein sebelum kembali ke Basel. Koper saya sudah nyaris tak menyisakan ruang, penuh dengan aneka keju, susu, pasta, dan tea dengan aneka aroma.
Kami terus melangkah, hampir 3 km berjalan kaki sejak dari Vitra Design Museum, singgah sebentar di toko keju local, lalu menyusuri Rheinpark, hingga akhirnya tiba di Narli Market.
Jaraknya memang tak dekat, tapi langkah kami terasa ringan. Mungkin karena sepanjang jalan, kami tak hanya membawa koper, tapi juga percakapan yang tumbuh perlahan, dan diam yang saling memahami.
Begitu memasuki Narli Market, kami disambut oleh aroma rempah yang tajam, rak-rak berisi bumbu khas Timur Tengah, dan aneka daging sapi dan ayam halal yang tertata rapi di balik kaca chiller.
Kami masing-masing memilih setengah kilo daging dan beberapa rempah lainnya. Hanya itu yang bisa kami bawa melewati perbatasan, sesuai aturan yang berlaku. Tak banyak memang, hanya bisa satu kilo daging untuk dua orang setelah perjalanan sejauh ini.
Tapi Michael tidak mengeluh. Ia justru tertawa ringan sambil melirik koper yang mulai berat. “Kadang, usaha untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita yakini tak selalu mudah,” katanya. “Tapi justru karena itu, nilainya jadi lebih bermakna.”
Ia tahu kami bisa saja membeli daging di tempat lain yang lebih dekat. Tapi ia juga tahu bahwa bagi saya, ini tentang keyakinan yang saya peluk sebagai seorang muslim. Dalam langkah yang mungkin terasa panjang, ada hal yang jadi lebih ringan ketika seseorang tak hanya ikut berjalan, tapi juga ikut mengerti.
“What we carry isn’t just the weight in our hands, but the beliefs we choose to honor along the way.”
Part 27.

