0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Courage isn’t the lack of fear. It’s choosing to walk, even with fear beside you.”

 

Angin pagi masih menggantung di ujung daun, membawa sisa embun dan bisik pelan dari bumi. Sophie kembali duduk dengan posisi jongkok, kini menyandarkan dagunya di lutut, matanya tak lepas dari satu barisan semut yang berjalan perlahan di dekat kakinya.

 

Saya ikut duduk di sampingnya, membiarkan rumput yang hangat menyentuh kulit. Sejenak kami hanya diam, menyaksikan bagaimana semut-semut itu terus bergerak, meskipun jalannya berliku dan kadang terhenti oleh ranting kecil.

 

“Mama,” katanya lirih, “do you think we can be like ants?” Saya menoleh perlahan, lalu tersenyum kecil. “We do have something like them, sayang,” sambil memungut sehelai daun dan memutarnya di jari.

 

“It’s called neuroplasticity. Our brains can learn and change when we face something hard. Jadi, sama seperti semut yang terus berjalan meskipun jatuh, kita juga bisa menjadi lebih kuat dan lebih pintar setiap kali kita mencoba lagi.”

 

Sophie mengangguk kecil. Jemarinya masih memainkan gulungan rumput, seperti sedang menulis sesuatu di udara yang hanya bisa ia mengerti sendiri. “Our brains can grow?” tanyanya, dengan nada penasaran bercampur rasa takjub.

 

“Yes,” saya menjawab pelan, “each time we try again, our brain builds new ways to understand and to be stronger. Even when it feels hard, even when it feels like we’re not moving forward… ada sesuatu di dalam diri kita yang sedang belajar.”

 

Ia terdiam sejenak, lalu berbisik, “So… even if I cry, or get scared, it doesn’t mean I’m weak, mama ?”  Saya melingkarkan tangan ke bahunya, memeluknya ringan. “No, sayang. It means you’re growing. Even tears can water the ground we’re learning to walk on.”

 

“Courage does not ask fear to leave. It simply keeps walking beside it.”

Part 16.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!