“Healing isn’t about forgetting. It’s about finding light in the spaces where darkness once lived.”
Pepohonan berdiri tenang, daunnya berkilauan lembut, menyimpan rahasia embun pagi yang perlahan menguap. Kabut tipis masih menggantung di udara, membungkus langit Manchester dalam keheningan yang dingin dan samar.
Arsyl menoleh sebentar lalu kembali menunduk. “Bagaimana perasaan kamu pagi ini?” bertanya pelan. Dia menghela napas panjang, wajahnya penuh kelelahan. “Masih seperti semalam. Tidak bisa tidur. I still love her,” suaranya terdengar serak.
Saya terdiam dan dengan hati-hati berkata, “Arsyl, kadang luka itu seperti kabut pagi ini.” Dia menoleh sedikit, alisnya mengerut. “Kabut menghalangi pandangan kita tapi tidak selamanya ada. Ketika matahari muncul, perlahan semuanya akan tersingkap, memberi jalan pada terang.”
Dia menatap saya dalam-dalam, keheningan menggantung di antara kami. Mata kelamnya yang tadinya kosong mulai menunjukkan secercah sesuatu, meski redup. “Tapi mataharinya di mana?” suaranya hampir berbisik.
Menarik napas panjang, membiarkan pertanyaannya melayang sejenak. “Kadang, matahari itu tidak datang dari luar, Arsyl,” sembari menatapnya penuh arti. “Kadang, terang itu harus kita temukan sendiri. Perlahan, dari dalam hati kita.”
Dia mengalihkan pandangannya ke depan, menatap kabut yang mulai memudar. Cahaya matahari pagi menyelinap lembut di sela-sela pohon, mengubah langit Manchester yang semula abu-abu menjadi sedikit lebih hangat, lebih hidup.
Mungkin seperti itu juga hidup. Kabut luka dan kesedihan memang bisa menutupi segalanya, tapi pada akhirnya, terang selalu menunggu, meski kadang, kita harus menemukannya sendiri.
“Healing doesn’t happen all at once. It’s a slow, steady journey towards the light.”
Part 2.

