“You are not falling behind by resting. You are simply remembering the way back to yourself.”
Saya masih duduk di sana, di bangku yang perlahan terasa hangat, bukan hanya karena tubuh, tapi karena jeda yang saya izinkan hadir.
Di tengah lalu-lalang koper dan suara pengumuman yang bersahut-sahutan dunia terus bergerak cepat. Tapi di dalam diri, perlahan terasa ada ruang yang justru mulai melambat, seolah menyisakan tempat bagi napas yang sempat tertinggal.
Pandangan saya belum beralih. Si ibu kini menyandarkan kepala ke kursi dan memejamkan mata sejenak sambil tetap memeluk anaknya. Tidak untuk tidur, hanya sekadar mengambil napas panjang.
Mungkin itulah caranya memberi jeda untuk dirinya sendiri, di antara hari-hari yang tak pernah memberi cukup waktu dan saya kembali teringat, terkadang saya pun lupa berhenti.
Lupa bahwa rasa lelah tidak perlu menunggu liburan untuk bisa reda. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah duduk sebentar, memeluk diri sendiri dan berkata dalam hati: dear me, tidak apa-apa… kamu sudah cukup hari ini.
Sering kali kita terlalu sibuk menjadi kuat, sampai lupa caranya menjadi cukup. Kita terus menambal, mendorong langkah, tanpa sadar betapa pentingnya mundur sejenak untuk melihat kembali dengan mata yang lebih jernih dan hati yang tak lagi tercekat.
Di bangku itu, saya tidak sedang menunggu siapa-siapa. Tapi justru di sanalah, saya berjumpa lagi dengan diri sendiri, yang kadang-kadang luput saya ajak duduk bersama.
“Rest is not stepping away from strength. It is how we find our way back to it.”
Part 14.

