“If you seek calm in the chaos, it will elude you, find it first within, and the world softens.”
Saya menyesap tea perlahan, membiarkan hangatnya mengalir tenang di tenggorokan, tanpa gula, dengan warna merah teduh, seperti bumi setelah hujan pertama. Tidak manis dan tidak pekat, tapi cukup untuk tinggal lama dalam diam.
Chloe, dengan jemari kecilnya, melipat tissue menjadi bunga mungil. Ia tersenyum sendiri saat menyelipkannya di balik gelas plastic Thai tea yang basah oleh embun.
Di samping Chloe, Mbak Patsy mengunyah mangga potong dari wadah plastic, matanya menerawang lembut, seperti sedang berbicara dengan bayangan yang hanya hatinya mengerti.
Uap dari rooibos di dalam gelas kertas di hadapan saya terus menari pelan, membawa wangi yang perlahan membumbung, seolah ingin menyapa tapi tak ingin mengganggu.
Mungkin, memang ada hal-hal yang datang seperti rooibos tea, diam-diam, namun rasanya bertahan lama. Seolah ingin mengingatkan, bahwa ketenangan dan kebahagiaan sejati tak tumbuh dari gemerlap di luar.
Melainkan dari hening yang perlahan tumbuh di dalam, saat kita tak lagi menggantungkan rasa cukup pada apa yang terus bergerak dan tak bisa dikendalikan.
Ketika bahkan mengamati asap tipis dari secangkir tea pun terasa menenangkan, barangkali itu tandanya bahwa kita mulai betah tinggal di dalam. Di tempat di mana damai tak perlu dicari, hanya perlu disadari.
“As long as we keep attaching our happiness to external events, which are ever changing, we’ll always be left waiting for it.” Jay Shetty
Part 31.

