“Some journeys don’t pause for what’s lost, they unfold gently because of how we carry what’s missing.”
Saya dan Chloe melangkah perlahan meninggalkan sudut jalan itu. Kue-kue kecil dalam bungkusan kertas tergenggam di tangannya, masih hangat dengan aromanya yang seperti masih menempel lembut di udara.
Kami berjalan menuju sebuah gedung besar di jalan utama, tempat acara tradeshow akan berlangsung. Jalanan mulai sibuk, deru kendaraan makin jelas terdengar, tapi seolah masih ada ruang tenang yang kami bawa dari pagi yang sederhana namun penuh makna.
“Mama, is Tante Patsy already there?” tanya Chloe dengan mata yang berbinar cerah. “I think so, sayang. You know how early she likes to come and arrange things.” Chloe mengangguk cepat. “She said she’ll bring me some of my fave candy!”
Saya tersenyum. “She’ll be so happy to see you.” Langkah Chloe pun makin cepat, hampir seperti berlari kecil. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan saya tidak tertinggal.
Saat kami tiba di venue, Mbak Patsy terlihat sedang berdiri di dekat kopernya yang rusak. Tidak ada sedikit pun kegelisahan di wajahnya. Justru tawa kecil mengalir, bahunya naik turun pelan menahan geli melihat kopernya yang kini hanya tinggal tiga roda.
Ia jongkok sebentar, menyentuh bagian yang kosong seolah mengucapkan selamat tinggal pada roda yang hilang. “Mungkin rodanya sudah terlalu lelah, Mbak Pats,” gumam saya sambil ikut tersenyum, lebih karena derai tawanya yang ringan, bukan pada kopernya sendiri.
Mata mbak Patsy tetap berbinar seakan berkata bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dibuat repot hanya karena satu roda yang hilang. Chloe pun ikut tertawa, entah pada rodanya, atau pada cara Mbak Patsy menjadikan kehilangan kecil itu sebagai bagian dari perjalanan yang tetap bisa dinikmati.
“Even what’s broken can carry traces of joy, if we learn to hold it gently and keep walking without needing it to be whole.”
Part 11.

