0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Longing is proof that our hearts leave anchors in places we once stood still, even if time has moved us on.”

 

Saya dan Michael berdiri sejenak di depan phone booth itu. Kami tak masuk, hanya memandanginya dari luar, seakan mendengar gema suara-suara lama yang masih tertinggal di balik kaca beningnya.

 

Embun tipis menempel di permukaannya, memantulkan siluet kami yang nyaris tak bergerak. Di sekeliling, dedaunan bergetar perlahan tertiup angin pagi, seolah turut mengenang hari-hari ketika rindu disampaikan lewat cable panjang dan jeda yang penuh arti.

 

Ada hari-hari di mana kami bergantian masuk, menggenggam gagang telepon seperti menggenggam tangan dari jauh. Kadang suara dari seberang terdengar jernih, kadang terputus-putus, tapi entah mengapa, selalu cukup untuk membuat dada terasa hangat.

 

Michael mengembuskan napas pelan. “Dulu saya kira yang paling sulit itu adaptasi,” katanya lirih. “Tapi ternyata, yang paling diam-diam mengguncang… adalah rasa rindu.”

 

Saya mengangguk. Di balik kaca tipis itu, seolah masih tertinggal bisikan doa, tawa yang terdengar dipaksakan, dan jeda panjang saat ibu kami masing-masing  dari seberang bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

 

Kami terdiam, membiarkan pagi bicara lewat bayangan yang merayap pelan di trotoar. Dari kejauhan, suara tram yang akan kami naiki mulai mendekat, seperti helaan napas kota yang baru terbangun. Kami  pun bergegas menyeberang dengan setengah berlari agar tak ketinggalan.

 

Sebelum naik, saya menoleh sekali lagi. Phone booth itu tetap berdiri tenang. Kadang, tempat paling sederhana menyimpan perasaan yang paling rumit dan pada akhirnya kita belajar bahwa rasa rindu bukanlah kelemahan, melainkan bukti bahwa hati kita bertaut erat pada sesuatu yang kini jauh dari jangkauan.

 

“Longing is the soul’s quiet grip on what distance could never truly take away.”

Part 9.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!