0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“On tiptoe, love enters the room. Quiet, steady, exactly when you need it.”

 

Pagi berikutnya, langit Hat Yai membentang biru pucat, seolah baru dibilas sisa hujan malam. Kami melangkah keluar dari apartment, udara masih sejuk, dan jalanan belum sepenuhnya terjaga.

 

Chloe tanpa diminta  meraih pegangan koper kecil saya dan mulai menariknya pelan, menyusuri trotoar yang masih basah. Saya menoleh, hendak berkata sesuatu, tapi ia  tersenyum kecil dan mengangkat bahu. “It’s okay, Mama. It’s not that heavy.”

 

Kami berjalan berdampingan. Suara roda koper bergesekan halus dengan batu-batu kecil, mengiringi langkah kami yang tenang. Saya memperhatikannya dalam diam.

 

Tatapannya lurus ke depan namun tetap berceloteh. Kaos orange yang ia kenakan tampak contrast lembut dengan langit pagi, dan ia melepas topi putihnya lalu  menyelipkannya di pegangan koper. “Just in case it gets too hot later, Mama,” katanya ringan.

 

Saya tersenyum, lalu berkata pelan, “Terima kasih sudah bantu tarik koper Mama, sayang.” Chloe menoleh, lalu menyandarkan kepalanya sebentar di bahu saya. “I saw your face looked a little tired, so I just wanted to do something small to help.”

 

Saya terdiam. Kalimat itu masuk perlahan dan menetap seperti embun yang enggan menguap. Ternyata, begitu banyak pelajaran datang dari anak kecil. Hari itu, saya kembali belajar bahwa perhatian tak harus lantang atau megah.

 

Cinta kadang datang lewat tangan kecil yang menarik beban lelah kita tanpa suara, bukan karena diminta, tapi karena ia mampu melihat sebelum kita sempat berkata.

 

“Help that comes unspoken stays longest in the heart.”

Part 35.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!