“We move forward in life, yet a part of us is always searching for the warmth of home in the little things we hold close.”
Saya akhirnya kembali ke tempat saya berada, meninggalkan lorong-lorong kenangan yang sempat menarik saya pergi. Di hadapan, tawa mereka masih bersahutan, riuh rendah memenuhi ruang kopitiam yang kini semakin hangat oleh percakapan dan aroma tea yang menggantung di udara.
Saya memanggil pelayan dan memesan variasi lain dari tea tarik yaitu tea tarik halia. Saat diantar ke meja, uap hangatnya menguar lembut, menyebarkan aroma jahe yang samar namun menenangkan. Begitu tegukan pertama menyentuh lidah, senyum kecil pun terbit tanpa sadar.
Rasanya mengingatkan pada sarabba, minuman khas dari daerah asal saya di Makassar. Hangat, sedikit pedas, namun menyelipkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Seperti pelukan yang tak terlihat, tapi terasa hingga ke relung hati.
“Teh tarik halia?” Wanita berkerudung putih menoleh, alisnya sedikit terangkat, senyum menggoda di wajahnya. “Bila masa pula kau suka minuman ini?” Saya tertawa kecil, meletakkan gelas kembali ke meja. “Selain hangat, rasanya mengingatkan pada minuman khas di negara saya,” jawab saya ringan.
Wanita berkerudung biru ikut tersenyum. “Maybe it’s more than just warmth, it’s the comfort of the memories it carries.” Saya menatapnya, lalu mengangguk kecil. Ada hal-hal yang tak perlu dijawab dengan kata-kata, cukup dirasakan dalam diam yang mengalir di antara kami.
Saya menyesap tea tarik halia sekali lagi, membiarkan hangatnya menjalar pelan, seolah menyusuri jejak kenangan yang tertinggal di sudut hati. Aneh bagaimana rasa bisa menjadi jembatan menuju masa lalu, menghidupkan kembali kehangatan yang pernah akrab, meski waktu terus berjalan.
Mungkin itu sebabnya, dalam hidup yang terus bergerak, kita tanpa sadar selalu mencari sesuatu yang terasa seperti rumah. Bukan sekadar rasa yang melekat di lidah, tapi kehangatan yang menyelinap diam-diam, menggenggam kita dari dalam, bahkan dalam secangkir tea tarik halia.
“We may not always return to places, but we find ourselves returning to feelings, the ones that feel like home.”
Part 9.

