0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“It’s never the gifts in our hands, but the shifts in our hearts that weigh the most”

 

Bus perlahan melewati persimpangan. Dari layar kecil di depan, terlihat lantai bawah tempat koper-koper tersusun rapi termasuk koper saya. Ada yang besar dan tampak penuh, ada pula yang kecil, nyaris tanpa suara saat digeser.

 

Entah mengapa, pemandangan itu memanggil ingatan pada perjalanan-perjalanan yang telah saya tempuh. Dulu saya mengira pulang berarti membawa oleh-oleh, photo atau barang-barang baru.

 

Tapi pagi ini, mendengar celoteh  riang sekelompok wanita dari Indonesia yang mau tak mau sampai ke telinga karena suaranya yang membahana, saya justru belajar sesuatu yang pelan-pelan mengendap.

 

Salah satu dari mereka menyimpan radio rusak tapi tetap dijaga seolah masih bisa bersuara. Bagi dirinya, radio itu adalah gema lembut dari masa lalu dan serpihan kasih sayang  yang tak bisa diulang.

 

Dari sana saya mengerti, bahwa dalam setiap perjalanan, bukan isi koper yang paling membentuk kita, melainkan hal-hal yang tidak bisa dilipat seperti suara, makna, dan cara baru dalam memandang dunia.

 

Saya memang berangkat dengan koper nyaris kosong, hanya berisi pakaian yang digulung rapi. Tapi saat pulang, koper itu akan terasa lebih berat. Bukan karena barang, melainkan karena sederet pengalaman yang tidak bisa dikemas.

 

Mungkin memang begitu. Beban paling berharga dari sebuah perjalanan bukan yang terlihat di bagasi, tapi yang diam-diam ikut menetap di dalam diri,  dan perlahan membentuk siapa kita setelahnya.

 

“The heaviest things we bring home are often unseen, tucked quietly between memory and meaning.”

Part 30.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!