0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Familiar melodies often carry new meanings once time has softened our edges.”

 

Waktu saya kecil, lagu Burung Kakaktua sering dinyanyikan sambil tertawa. Tangan mengepak, kaki berputar mengikuti irama, seolah kami benar-benar sedang terbang di tengah halaman sekolah atau ruang keluarga yang ramai.

 

Nadanya ringan dan mudah diingat, mirip dengan lagu Topi Saya Bundar, sederhana, mengalir, dan mudah melekat di kepala anak-anak seperti saya. Tapi di balik melody ceria itu, ternyata tersembunyi pesan yang baru saya pahami bertahun-tahun kemudian.

 

Pesan tentang waktu yang perlahan berjalan, dan kehilangan yang datang diam-diam. Dulu, kami menyanyikannya tanpa pikir panjang. Tak pernah terlintas bagaimana rasanya menjadi “nenek yang giginya tinggal dua.”  Bagi kami, lagu itu sekadar hiburan.

Namun pagi itu, lagu yang sama kembali, dengan cara yang tak saya duga, dikirim lewat koper ungu milik Mbak Patsy yang kini hanya bertumpu pada satu roda. Ia menunjuk sambil tertawa, “Kopernya memang tinggal satu roda… tapi masih bisa jalan, kan?”

 

Saya ikut tertawa, lalu membungkuk memperhatikan koper yang sedikit goyah, tapi tetap tegak. Seperti kapal tua yang menolak karam dan laut yang terus menguji kesabaran kayunya. Dalam keheningan itu, irama lagu itu kembali terngiang, kali ini mengalun pelan bersama pemahaman baru.

 

Ternyata, kekuatan bukan soal utuh atau tanpa cacat, tapi tentang kemauan untuk terus melangkah meski tak lagi sempurna. Tentang memilih menertawakan hal-hal yang hilang, daripada meratapinya. Hidup tak menunggu kita siap, ia hanya ingin tahu, apakah kita masih mau berjalan.

 

Kadang, yang kita butuhkan hanyalah satu roda yang tersisa dan lagu lama yang tetap bernyanyi dalam hati. Pelan, terseok, tapi cukup untuk membawa kita terus melaju.

 

“The melody of the past often drifts back when we least expect it, not to trouble, but to quietly guide us forward.”

Part 47.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!