0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Peace doesn’t always come from fixing, but from the way we choose to stay.”

 

Chloe dan Mbak Patsy masih mengamati koper itu dengan senyum dan sesekali tawa kecil pecah di antara mereka. Sementara saya tetap berdiri di tempat, membiarkan suasana pagi luruh perlahan, seperti embun yang tak lagi terburu-buru untuk hilang.

 

Suara roda koper yang kini terdengar agak sumbang karena tak lagi berjalan mulus mulai menjauh. Namun alih-alih hilang, justru suara itu menetap di benak saya, seperti jejak yang enggan pudar.

 

Tak lama kemudian, kami mulai membongkar koper masing-masing dan menata booth. Tradeshow akan segera dimulai, dan calon buyer mulai berdatangan satu per satu di meja registrasi.

 

Saya sempat melirik ke arah mbak Patsy, senyumnya masih sama dengan tubuh yang tetap tegap meski mungkin ada lelah yang tak sempat disusun menjadi keluhan. Tapi ia hadir sepenuhnya, dengan cara yang utuh meski harinya sudah dimulai dengan hal yang tak sempurna.

 

Setelah booth selesai ditata, kami duduk sejenak di atas carpet, beralaskan catalog dan secangkir tea hangat yang saya tuang dari thermos yang selalu setia menemani. Mbak Patsy menoleh pelan, “Kadang bukan soal apa yang terjadi, tapi bagaimana kita berdamai dengannya.”

 

Kalimat itu meluncur begitu saja, disertai tawa khasnya yang jernih dan tanpa beban. Bukan terdengar seperti nasihat, melainkan seperti angin lembut yang lewat untuk menyapa lalu diam-diam menetap.

 

Saya mengangguk tanpa menjawab, tapi dalam hati saya belajar bahwa tidak semua yang retak harus segera diperbaiki. Kadang cukup duduk di samping yang belum utuh, menyeduh secangkir tea, dan memberi ruang bagi tawa kecil untuk tumbuh.

 

“We don’t need to mend everything, some moments ask only to be met gently.”

Part 13.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!