“In repetition, love becomes a rhythm, not meant to impress but to assure.”
Senandung itu kembali terdengar dengan kelembutan yang sama. Kali ini, saya lebih memperhatikan dari sebelumnya. Ia tidak bernyanyi untuk menghibur, tapi untuk menenangkan. Bagi bayinya, irama yang berulang bukanlah kebosanan, melainkan titik tenang di dunia yang masih asing baginya.
Kereta dorong berwarna abu-abu lembut itu terlihat sederhana, tapi bersih dan terawat. Selimut kecil dengan motif bintang dan rembulan menutupi tubuh bayi yang sudah mulai tertidur, wajahnya tenang, seperti baru saja menemukan tempat paling aman di dunia.
Ibu muda itu mengenakan mantel wool berwarna cream pucat, rambutnya cokelat gelap dan sedikit kusut karena angin pagi, tapi justru itu yang membuatnya tampak lebih cantik. Sehelai scarf tipis melingkar di lehernya, warnanya senada dengan langit yang belum benar-benar biru.
Saya memperhatikan gerakan bibirnya yang lembut, nyaris seperti doa. Ini kali kelima saya mendengar bait “Schlaf, Kindlein, schlaf…” dan entah mengapa, setiap ulangan terasa lebih dalam dan lebih syahdu.
Michael mencondongkan tubuh sedikit, lalu berbisik, “Dia tidak mengubah satu nada pun.” Saya mengangguk pelan. “Mungkin justru itu yang penting.” Kami kembali diam, tapi bukan diam yang canggung, melainkan diam yang penuh hormat. Diam yang tahu sedang menyaksikan sesuatu yang tulus.
Saya mulai menyadari, anak-anak tak tumbuh dari kejutan yang terus-menerus. Mereka bertumbuh dari yang bisa mereka prediksi. Dari kehadiran yang tidak tergantikan. Dari kasih yang tidak perlu berubah bentuk tiap hari, tapi cukup dihadirkan ulang dengan cara yang sama: sabar, setia, dan utuh.
Tram yang kami tumpangi bergemuruh lembut di atas rel, seperti ikut menjaga irama. Dalam senandung yang diulang tanpa bosan, saya merasa bahwa cinta hidup dalam pengulangan yang lembut. Dalam suara yang sama, yang datang lagi, dan lagi, di kala malam, di kala pagi, setiap kala.
“Consistency is how love speaks when words fall short. Not loud, but steady, in the quiet gestures that never leave.
Part 13.

