0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Wholeness isn’t always visible. Sometimes, it hides in the way we choose joy despite the cracks”

 

 

Saat tiba di venue untuk loading day, langit Manila masih menggantungkan awan tipis berwarna perak pucat. Udara pagi menguapkan sisa hujan semalam, membawa wangi aspal basah dan debu yang belum sempat terinjak.

 

Langkah saya perlahan menyusuri trotoar menuju pintu masuk gedung, sembari membiarkan hembusan angin lembut menyapu ujung baju dan pikiran yang belum sepenuhnya kembali dari rumah. Begitu memasuki hall, suasana langsung berubah.

 

Hall besar itu dipenuhi suara lakban, bunyi benda berat digeser, dan percakapan cepat di antara spanduk dan lampu yang baru dipasang. Saya melewati booth mbak Patsy dan terlihat ia sudah  menyusun barang dengan semangat yang tak pernah surut.

 

Begitu melihat saya, senyumnya langsung merekah lebar.  “Mbak Sarah,” serunya sambil tertawa, “pasti tidak percaya… koper unguku, waktu landing di Manila, lepas lagi rodanya. Sekarang tinggal satu!” Saya melongo. “Tinggal satu?” mengulang setengah tak percaya.

Ia mengangguk, tertawa geli dengan tangan menunjuk ke koper ungu  yang berdiri miring, seperti perahu tua yang tetap berlayar, meski dihantam ombak berkali-kali.

 

Saya spontan membungkuk, memperhatikan bagian bawah koper itu. Rodanya benar-benar tinggal satu, sementara tiga sudut lainnya hanya menyisakan bekas goresan halus seperti luka kecil yang tak sempat dikeluhkan.

 

Entah kenapa, pemandangan itu memanggil kembali lagu masa kecil,tentang burung kakaktua. Burung kakaktua…Hinggap di jendela…Nenek sudah tua…Giginya tinggal dua. Suatu kehilangan yang dibawa dengan tawa dan diterima tanpa banyak drama.

 

“Some things keep moving not because they’re whole, but because someone chooses to carry them with heart.”

Part 46.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!