“Even when we do not step into the tide, its rhythm brushes our feet. Some moments leave their mark simply by passing near.”
Saya kembali menatap keluar jendela. Kota semakin sibuk, tapi di dalam diri justru tumbuh keheningan yang perlahan mengendap. Bukan karena suasana sunyi, melainkan karena mulai mengerti bahwa kehadiran tidak selalu berarti menjadi bagian dari percakapan.
Kadang, cukup menjadi latar yang setia. Duduk dekat orang-orang yang saling memahami, menjadi bayang-bayang yang tak mengganggu cahaya, hanya meredam panasnya perlahan.
Saya teringat satu sore di Hong Kong Park bersama Sophie. Ia memilih duduk agak jauh dari kerumunan anak-anak lain yang bermain. “I like just sitting here, Mama. Even if I’m not talking, I’m still with them.” katanya ringan.
Saat itu saya hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi pagi ini, di lantai dua sebuah bus yang perlahan menyusuri jalan berlikuk di Hong Kong, saya akhirnya benar-benar mengerti apa maksudnya.
Ada bentuk kehadiran yang tidak mengganggu alur dan tidak menuntut tempat di panggung utama, tapi tetap penting. Ia hadir seperti jeda dalam music atau ruang kosong dalam lukisan, tak terlihat, tapi tanpanya, segalanya akan terasa sesak.
Mungkin, menjadi bagian dari sesuatu tidak selalu berarti harus bicara, tertawa, atau menimpali. Kadang cukup dengan duduk tenang, menyimak, memberi ruang, dan membiarkan cerita mengalir tanpa perlu ikut menyusun narasinya.
Di luar jendela, cahaya pagi membias tenang di permukaan kaca. Saya duduk di sana, menjadi latar dari percakapan , namun tak terasa asing, hanya hening. Seperti seseorang yang tahu, meski tak ikut serta, ia masih bisa tersentuh oleh hangatnya suasana.
“Even when not seated by the fire, we can still feel its glow.”
Part 24.

