“Love does not always know why. It just knows who.”
Saya menoleh lagi. Chloe yang tadi hampir tertidur ternyata masih mendengar percakapan kami. Matanya tetap terpejam tetapi suaranya terdengar pelan dari tempat tidurnya.
“Then maybe we should pray for Mama too.” Saya tersenyum. “Kenapa?” Chloe membuka sedikit matanya lalu mengangkat bahu. “Just because.”
Sophie yang masih menarik selimut sampai ke hidungnya ikut bersuara. “Yeah. I can pray for Mama too.” Saya tertawa kecil. “Okay.”
Mereka kembali diam. Beberapa saat kemudian saya mendengar suara Sophie lagi dari balik selimut berbisik kepada Chloe. “But Mama cannot hear us.” “I know.”Jawab Chloe pelan. “Good.”
Saya menahan tawa. Tidak lama kemudian napas mereka mulai terdengar lebih teratur. Saya berdiri sebentar di antara kedua tempat tidur mereka sebelum mematikan lampu.
Selama ini saya selalu mendoakan mereka ketika mereka tidak tahu. Malam itu, untuk pertama kalinya saya mendengar mereka ingin melakukan hal yang sama tanpa alasan khusus.
Tidak ada penjelasan panjang.“Just because” dan entah kenapa, dua kata sederhana itu terasa hangat di dada.
“Some love needs no reason. It simply knows where to go.”
Part 13.

