“Strong people learn from heartbreak, weak people avoid love. Strong people let go of grudges.Weak people hold on to bitterness. Strong people work through setbacks.Weak people give up too soon.” Jay Shetty
Saya dan mbak Patsy masih duduk di sudut restaurant itu, meja kecil dengan gelas tea yang tinggal separuh. Riuh mall masih mengalir, tapi percakapan kami justru mengendap tenang, seperti sungai yang tahu kapan harus melambat.
“Mbak Sarah,” sambil mengulum senyum, “untung saya tetap berangkat, walau di setiap negara, satu per satu roda itu lepas. Mau beli yang baru, tidak sempat. Di Indonesia pun cuma transit, ambil baju bersih, titip laundry ke orang rumah, lalu pergi lagi.”
Saya terdiam. Kalimat itu pelan tapi dalam, seperti bisikan yang hanya bisa datang dari seseorang yang berkali-kali jatuh, tapi memilih tetap bangkit tanpa mengeraskan hati.
Kami tertawa kecil mengingat koper ungu itu yang tanpa roda, tapi tak ada satu keluhan pun dari Mbak Patsy. Ia tak menyalahkan maskapai dan tak mengutuk nasib. Justru ia tertawa, seolah beban itu bukan musibah, tapi teman lama yang sedang kelelahan.
Dalam hati saya menyadari bahwa butuh kekuatan besar untuk tidak menyimpan kesal. Butuh hati yang sabar untuk bisa melihat kerusakan bukan sebagai akhir, tapi sebagai bagian dari cerita.
Orang kuat bukan yang tidak pernah kecewa, tapi yang tidak membiarkan kekecewaan membentuk cara mereka melihat dunia. Mungkin kita sering salah mengira kekuatan sebagai suara yang lantang atau langkah yang pasti.
Padahal sering kali, kekuatan lahir dari cara seseorang memilih diam ketika bisa menyalahkan, memilih lembut saat bisa marah, dan tetap melangkah, meski tak lagi sempurna dan tetap membawa cinta di dalamnya.
“Strong people take accountability.Weak people point fingers.But remember,strong people were once weak people who doubt their strength but tried anyway.” Jay Shetty
Part 53.

