“What stays with us isn’t the magnitude of something, but the way it made us feel.”
Langkah saya dan Sophie pelan, menyusuri jalan kecil yang mulai riuh oleh derap pagi. Angin membawa sisa aroma pasar, samar-samar tercium wangi bawang, rempah, dan tanah yang masih basah. Tapi yang paling menetap di hidung saya, tetap aroma serai dan pandan dari tea tadi.
“Mmm… that herbal tea was nice, wasn’t it? So warm and comforting,” gumam saya, lebih kepada diri sendiri. Sophie menoleh, matanya berbinar kecil. “Iya. Hangatnya seperti pelukan Mama… tapi dari dalam.”
Saya tersenyum, menatap jalan di depan kami. “Kadang yang sederhana itu justru yang paling tinggal lama. Serai, pandan… kecil, tapi waktu diseduh, rasanya bisa menyapa hati.”
Sophie terdiam, seperti sedang menimbang kata-kata. Lalu perlahan, dengan suara nyaris setengah bisik, ia berkata, “Mama… how come the little things are the ones we remember most?”
Saya menoleh perlahan, menyeka anak rambut di dahinya yang tertiup angin. “Karena hati lebih suka mengingat rasa… daripada ukuran.” Ia mengangguk pelan, lalu menatap ke depan. “Seperti tadi… tea-nya sudah habis, tapi hangatnya masih ada.”
Saya tertawa kecil. “Atau… tea-nya sudah habis, tapi dinginnya masih ada, karena Sophie tadi minumnya iced tea, bukan hot tea.” Sophie ikut tertawa, matanya menyipit lucu. “Ah ya… you’re right, Mama. But it was the nice kind of cold. I think a little bit of it stayed in my heart.”
Mungkin esok kami tak akan minum tea yang sama, dan mungkin nenek itu hanya lewat sekali dalam hidup kami. Tapi jejak kecil mereka… sudah menjadi bagian dari ingatan. Bukan karena megahnya, tapi karena hati selalu tahu mana yang pantas tinggal lebih lama.
“What the heart remembers is the feeling, not the appearance.”
Part 8.

