0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Not all weight can be seen. Some of it lingers in silence, behind tired eyes.”

 

Cahaya menjelang sore melukis bayangan panjang di trotoar, menyentuh sepatu kami dengan warna-warna hangat yang mulai pudar. Udara membawa aroma tanah dan debu ringan, sementara suara roda tram yang mendekat terdengar seperti alunan penutup dari sebuah lagu panjang yang hampir selesai.

 

Kami berdiri diam, sejenak larut dalam harmony di antara cahaya yang condong dan bayangan tiang yang memanjang. Michael masih menggenggam pegangan koper dan saya merapikan scarf yang tertiup angin, membiarkan ujungnya menari sebentar di udara, sebelum kembali jatuh ke bahu.

 

Kami naik ke dalam tram, memilih duduk di bagian belakang, tempat di mana pandangan bisa bebas menyapu landscape yang perlahan berganti: deretan rumah, taman yang masih asri meski diterpa waktu, dan jendela-jendela toko yang siap menutup lembaran hari.

 

Di seberang kami, seorang perempuan muda duduk diam. Di tangannya, sebuah keranjang kecil yang hanya cukup untuk dua atau tiga buah apple. Rambutnya kusut, wajahnya tampak lelah, dan sudut bibirnya kaku, seolah senyum sudah lama enggan mampir.

 

Matanya bengkak, berkaca-kaca dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun mulutnya terkatup rapat. Dalam diamnya, ada sesuatu yang lebih berat dari yang terlihat, sesuatu yang dia sembunyikan di balik tatapan kosong dan tubuh yang tampak rapuh.

Saya menatap keranjang itu, terlihat ringan di tangan, namun saya tahu, itu bukan satu-satunya yang sedang ia bawa. Setiap gerakan tangannya yang cemas, setiap hembusan napas yang lebih panjang dari biasanya, menyampaikan bahwa ada lebih dari sekadar beban fisik yang dia pikul.

 

Pada saat itu, saya mulai memahami bahwa tidak semua beban tampak di mata. Beberapa beban tersembunyi, rapi disimpan di balik senyum yang memudar, di antara tawa yang tak pernah sempurna, atau dalam keranjang apple yang tampak ringan, namun menyimpan berat yang tak terucapkan.

 

“Some wounds remain unseen, tucked away in the quietest of places.”

Part 33.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!