“What holds us together isn’t always seen, but it shows in how we keep moving forward.”
Mbak Patsy lalu mengambil segelas air dan menawarkannya kepada saya. “Mbak Sarah, ini ada tea hangat,” ucapnya pelan, seolah tahu bahwa yang saya butuhkan bukan jawaban, tapi jeda.
Aroma rooibos samar mengambang di antara kami, seperti napas sore yang pelan dan tidak tergesa. Saya sedang memikirkan satu hal, bahwa kita ini, mungkin, seperti benang-benang halus yang tersembunyi di dalam kain batik.
Bukan motif besar yang mencolok tapi benang itulah yang menjahit satu bagian dengan bagian lain, menyatukan potongan-potongan pola agar menjadi satu kesatuan. Tanpa benang itu, motif seindah apa pun hanya akan jadi serpihan kain yang belum selesai.
Mata saya akhirnya menoleh ke arah koper ungu yang kini hanya tinggal satu roda. Tadi jalannya miring, terseret-seret di sepanjang trotoar seperti seseorang yang memaksakan langkah meski lututnya gemetar.
“Mbak Pats masih pakai koper itu?” setengah heran dan setengah kagum. Ia tersenyum, mengangkat bahu kecil. “Gantinya nanti saja kalau sudah sampai Indonesia. Sementara ini masih bisa dipakai. Lagipula bunyinya lucu kalau diseret,” katanya, tertawa kecil.
Saya ikut tersenyum. Mungkin kita semua memang seperti koper itu yang tidak selalu utuh, tapi tetap melangkah. Ada goresan, ada bagian yang aus, tapi tetap setia membawa beban. Tetap mencari jalan pulang, meski dengan cara yang berbeda.
Seperti benang-benang halus dalam kain batik, peran kita kadang tak terlihat dari luar. Tapi justru menjadi pengikat pola. Tanpa terlihat, tapi tetap penting. Tanpa disorot, tapi terus bekerja.
“What stays hidden often does the quiet work of keeping everything together.”
Part 49.

