“Peace isn’t something we stumble upon. It’s something we quietly carry.”
Menjelang sore, matahari turun perlahan, terlihat cahaya hangat keemasan dari jendela. Kaki Chloe mengayun pelan dari kursi, sementara mbak Patsy masih sibuk melayani satu dua pembeli yang tertarik pada gelang mutiaranya.
Saya menuangkan rooibos hangat ke dalam gelas Hello Kitty dan unicorn yang saya bawa dari Indonesia. Uapnya naik perlahan, seperti napas yang dalam setelah hari yang panjang.
Chloe memperhatikan uap itu sebentar, lalu kembali mengayunkan kakinya. “Mama, why do you always bring your little kettle and tea everywhere? Even the cup and the thermos… it’s like you carry a tiny kitchen!”
Ia menahan tawa, matanya berbinar geli. Saya menoleh dan tersenyum. “Karena kadang, tenang itu bukan sesuatu yang datang dari luar, tapi kita bawa sendiri. Seperti tea, sangat sederhana, tapi mampu membuat hati mama tenang.”
Chloe mengangguk pelan, lalu bangkit dan berjalan ke arah mbak Patsy, mengagumi kotak-kotak kecil berisi anting dan bros. Jemarinya menyentuh satu per satu, seolah tiap kilau mutiara menyimpan cerita yang ingin ia dengar lebih lama.
Sore itu terus bergulir. Di tengah langkah-langkah yang lalu lalang dan suara pengunjung yang tak pernah benar-benar diam, kami menemukan ruang kecil yang tak disentuh hiruk pikuk.
Sebuah sudut tenang yang kami bawa sendiri, cukup luas untuk satu gelas tea, cukup dalam untuk rasa damai yang tak lekas pergi.
“Stillness isn’t a place, it’s something we steep slowly into our day.”
Part 37.

