0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Language may divide, but curiosity and laughter always find their way through.”

 

Saya, mbak Patsy dan Chloe akhirnya memutuskan untuk memesan, setelah cukup lama berdiri di depan papan menu yang penuh dengan huruf-huruf melengkung, aksara Thai yang tampak seperti lukisan bisu, indah, tapi tak bersuara dalam bahasa kami.

 

Tak ada gambar, tak ada terjemahan. Hanya deretan kata asing yang berbaris rapi  seolah menunggu untuk dipahami. Chloe mencondongkan tubuh, matanya menyisir huruf-huruf itu dengan rasa ingin tahu. “Let’s guess, Mama,” bisiknya, setengah bermain, setengah serious.

 

Mbak Patsy tersenyum. “Anggap saja ini menu tanpa nama, Chloe,” ujarnya dengan nada jenaka. Kami pun tenggelam dalam diskusi kecil, seperti detective yang mencoba memecahkan sandi dalam bahasa rahasia.

 

Di antara harga-harga yang tertera, tiba-tiba ada satu angka yang mencolok: 10 baht. Saya menunjuk sambil mengeryitkan kening. “Mungkin ini 10 baht… kalau tambah nasi?” gumam saya pelan.

 

Chloe memiringkan kepala, menatap angka itu dengan rasa penasaran lalu berkata dengan nada iseng, “Or maybe that’s the price if we just want to smell the food.” Ia lalu pura-pura menghirup udara dalam-dalam, seolah mencicipi aromanya lewat angin.

 

Mbak Patsy ikut menimpali, “Atau itu harga kalau kita bantu cuci piring.” Kami tertawa lagi, kali ini lebih keras dan lebih lepas. “Atau,” lanjut saya sambil menahan senyum, “itu mungkin  delivery fee kalau makanannya dianter ke meja kita.”

 

Di tengah huruf-huruf yang tak kami mengerti, angka pun berubah menjadi games yang menenangkan. Di pasar yang ramai dan riuh, kami menemukan celah hangat di antara keramaian yang asing.

 

“We may not speak the language, but curiosity and playfulness helped us feel at home.”

Part 23.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!