0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Patience is when the heart cracks, but the days go on, the voice stays calm, and  the love never slips.”

 

Setelah turun di Immigration Tower, di Wan Chai, saya melewati Seven Eleven lalu menaiki jembatan menuju gedung HKCEC di seberang. Angin pagi menyusup pelan, dan bayangan sekelompok wanita tadi kembali melintas.

 

Mereka yang setiap harinya menjahit ulang harapan, meski benangnya sudah nyaris putus. Bukan karena mereka tidak pernah marah, tapi karena marah pun butuh ruang dan mereka tak punya cukup tempat untuk meletakkan kecewa itu.

 

Segalanya dipendam, dilipat dan disimpan di sela-sela schedule kerja yang tak memberi waktu untuk runtuh.

 

Mereka bangun sebelum fajar, menyiapkan sarapan untuk keluarga orang lain, lalu membersihkan rumah yang bukan miliknya, sambil memikirkan rumah yang bahkan tak sempat ia lihat tumbuh dari kejauhan.

 

Kesabaran mereka bukan berasal dari ketenangan, tapi dari kebiasaan. Dari menunda tangis, menjeda rindu dan menahan napas saat kabar dari kampung terlambat datang.

 

Kini saya sadari bahwa ada sabar yang lahir dari pilihan, tapi ada pula yang tumbuh karena tak ada pilihan lain. Para ibu di bus itu bukan hanya pekerja. Mereka adalah perempuan yang setiap hari melatih hati untuk tidak runtuh.

 

Langit pagi kini semakin terang. Tapi yang sesungguhnya bersinar bukan cahaya matahari, melainkan sisa-sisa percakapan  yaitu tentang kesabaran yang ditempa setiap hari, dalam kerja yang tak pernah selesai dan dalam cinta yang tak pernah putus arah.

 

“Patience is not the absence of pain, but the art of carrying it without spilling”

Part 37.

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!