“The realest flex of 2025 is refusing to let a harsh world make you harsh too.” Cory Allen
Saya kira cerita tentang radio itu telah selesai, tapi suara perempuan di bangku sebelah kembali terdengar dengan jernih. “Waktu itu saya cuma tersenyum. Majikan saya bilang, kenapa masih simpan radio jelek dan rusak seperti itu?”
Ia terdiam sejenak, seperti menyentuh kenangan yang dulu sempat menggores, tapi kini sudah tak meninggalkan luka. “Saya tahu dia tidak akan mengerti. Tapi saya juga tidak ingin menjawab dengan marah,” lanjutnya.
Suaranya tetap hangat, meski ucapannya tegas. “Saya hanya bilang, itu satu-satunya kenangan yang pernah bersuara dan membuat saya ingat bagaimana rasanya duduk di rumah, sore-sore, saat Ibu masih ada.”
Tak ada nada tersinggung dalam suaranya tapi keteguhan yang tenang. Ia tak merasa harus menjelaskan panjang lebar, tapi juga tidak memilih untuk pahit terhadap siapa pun.
Saya menoleh perlahan. Di wajahnya, ada kelembutan yang tidak memudar. Barangkali itu salah satu bentuk kekuatan, tetap memilih bersikap baik, bahkan kepada mereka yang tidak tahu cara bersikap yang sama.
Di tengah orang-orang yang kerap tajam dalam ucapan, ia memilih tetap hangat. Ia tak merasa perlu menghapus makna dari sesuatu yang ia jaga dengan hati, hanya karena orang lain menganggapnya remeh.
Mungkin, menjadi kuat bukan tentang membalas dengan keras, tapi tetap lembut meski ada orang yang membuat kita bertindak sebaliknya. Barangkali, itulah keberanian yang paling sunyi yaitu tetap hangat saat kita bisa saja menjadi dingin.
“A soft heart in a harsh room is the loudest kind of strength”
Part 28.

