“The ocean reminds us that motion and peace can exist together.”
Laut di samping kapal ferry tampak lebih tenang. Permukaannya memantulkan cahaya pagi yang semakin terang, bergerak perlahan mengikuti laju kapal yang meninggalkan Pelabuhan Merak menuju Bakauheni di Pulau Sumatra.
Air tidak benar-benar diam saat itu, namun juga tidak bergolak, seolah menemukan iramanya sendiri di antara hembusan angin, detak waktu dan arah perjalanan.
Kami mengantri menaiki tangga besi dari lambung kapal, meninggalkan mobil yang terparkir rapi di bawah lalu berjalan masuk ke area restaurant.
Di sisi lain, ruangan dengan kasur-kasur berjejer dengan beberapa penumpang tampak sudah langsung terlelap, seakan memilih melanjutkan tidur daripada menyambut pagi.
Nigel, Chloe dan Sophie justru menarik tangan saya untuk melihat matahari terbit yang belum sepenuhnya naik. Langit perlahan berubah, dari semburat pink ke ungu lalu beralih menjadi orange keemasan yang hangat.
Saya bersandar di pagar kapal, memandang laut lepas dan memperhatikan gelombang kecil yang naik dan turun. Tanpa sadar, napas saya ikut melambat, mengikuti gerakan air yang tidak tergesa dan tidak melawan.
Pagi itu, deru ombak di laut mengingatkan bahwa ketenangan bukan berarti tanpa gerak, melainkan kemampuan untuk tetap bergerak mengikuti iramanya sendiri, tanpa perlu melawan semuanya sekaligus.
“The ocean calms not by stopping its waves but by letting them come and go.”
Part 4.

