0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“We can’t set the pace of someone’s illness, but we can shape the comfort of their hours.”

Sisa uap dari cangkir tea belum sepenuhnya hilang, dan aroma koshari masih menggantung di udara. Kami masih duduk mengelilingi meja kecil itu, menikmati tea dalam hening, bukan karena kehabisan kata, tapi karena belum tahu mana yang pantas diucap.

Saya, Mohammed, dan Michael sibuk mengaduk tea yang sebenarnya tak perlu diaduk, menatap ke luar jendela yang tak benar-benar menawarkan pemandangan apa-apa. Hingga tiba-tiba, Tilahum berdehem keras. Seolah ingin mengusir kabut yang bukan hanya di luar, tapi juga di antara kami.

“Saya sakit,” katanya, pelan tapi tegas. “Tapi bukan berarti saya ingin semuanya ikut diam. Too much quiet doesn’t help, it just makes everything feel heavier.” Ia tersenyum kecil. Kami saling pandang, lalu ikut tersenyum. Ada rasa lega yang pelan-pelan masuk, melihat Tilahum mulai berceloteh lagi.

Kalimat sesederhana itu cukup untuk melonggarkan udara yang tadi terasa sesak. Mohammed tertawa duluan. “So… we’re allowed to laugh again?” Tilahum mengangguk, matanya sedikit lebih hidup. “As long as it’s not about my toast.”

Tentu saja, itu seperti aba-aba tak resmi. Kami serempak melirik roti gosong di pojok meja yang sudah mengeras, warnanya gelap pekat, nyaris seperti arang. Saya tersenyum sambil mengangkat alis, “That toast’s not burnt, it’s just emotionally overcooked.”

Michael menimpali, “You sure this isn’t just a very ambitious coffee biscuit?” Tilahum tertawa lebih lepas, lalu berkata, “No wonder I skip lunch and dinner, look what I nearly fed myself.”

Mohammed kembali tertawa, “Makanya saya bikinkan koshari. That’s not toast anymore, that’s the autobiography of a tough morning.” Tawa kami pun memenuhi dapur kecil itu. Tidak riuh tapi cukup untuk menghangatkan ruang yang tadinya terlalu sunyi.

“We can’t cure the illness faster, but we can soften the waiting.”
Part 3.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!