“Life is like the reef. It holds both broken edges and hidden beauty and what we discover rests on where we let our eyes linger.”
Sambil menunggu Sophie dan Nigel, saya, Chloe dan Chris duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap ke laut. Angin laut menyapu dan dari kejauhan kapal perlahan menjauh, meninggalkan garis kecil di permukaan air.
Di samping kami, seorang diving instructor memberi arahan pada muridnya yang sedang mengambil open water certificate. Ia menjelaskan teknik dasar, cara menjaga buoyancy, dan cara mengamati biota laut tanpa mengganggu keseimbangannya.
Lalu, sambil menunjuk ke arah laut, ia menambahkan dengan nada bercanda, “If you spend all your time looking at broken corals or cloudy sand, you’ll miss the little fish with the most amazing colors swimming right around you.”
Muridnya terdiam sebentar, lalu tertawa, seolah baru menyadari betapa mudahnya melewatkan keindahan ketika pikiran hanya terpaku pada yang rusak.
Saya ikut tersenyum mendengarnya. Ada benarnya juga. Dalam menyelam, terlalu lama menatap retakan hanya membuat kita buta pada kehidupan yang sedang menari di depan mata.
Sama halnya dalam hidup, ketika seseorang terus-menerus mencari cela orang lain, ia kehilangan kesempatan untuk melihat sisi terbaik yang sebenarnya ada di sana.
Laut justru menunjukkan cara yang berbeda. Ia menerima riak maupun cahaya, menyatukan keduanya tanpa kehilangan kemurniannya. Dari laut saya belajar, kebahagiaan tidak lahir dari mata yang hanya mencari keruh, tetapi dari hati yang berani melihat kilau di antara arus.
“Who is an unfortunate person? One who looks at other people and sees only their flaws.” Haemin Sunim
Part 23.

