0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

One thing I ask you to do, you people who have the pen in your hand, allow God to use you so that you never write anything that will destroy, that will hurt, but always take the trouble to write something beautiful, to help the people to see better, to love better, to come closer… to each other.”

Mother Teresa

 

Kemilaunya mentari pagi terlihat jelas  saat saya dan Daniel berjalan menuju salah satu kursi di antara hamparan rumput dan bunga yang bermekaran. Saat menyeruput kopi, teringat kalau membawa bekal sarapan.

 

“Hey, saya membuat baursak. Donat goreng special ala Mongolia, pasti enak karena resep dari sahabat saya Arsyl yang asli Kazakhstan.”

“Cara makannya bagaimana ?”

“Ada dua cara, bisa sebagai makanan pendamping salad atau bisa ditaburi dengan  kayu manis. Kalau di Indonesia mirip kue bantal, cuma ini lebih fluffy dan light.”

 

“ Hmm, kalau di oles selai enak tidak ?”

“Enak, bisa juga dicelupkan ke dalam teh hangat”

“ Kalau dicelupkan ke dalam  kopi bisa tidak ?”

“Rasa kopinya kan tidak manis.”

 

“Coba minumnya sambil lihat saya,  pasti jadi manis ” Daniel tersenyum dengan mata birunya yang semakin berbinar.

“Hmm, malah jadi pahit sekali.” Menyelupkan baursak dan menatap wajahnya dengan senyum cengengesan.

 

“Ah, saya ternyata bawa bekal cherry yang manis sekali, namanya Rainier cherry.” Menunduk dan membuka tasnya dengan penuh semangat.

“Berapa brix level kemanisannya ?”

“Hmm yang pasti cherry mana pun di dunia ini tidak akan sebanding dengan manisnya cherry Rainier, buah ciri khas dari kota saya tercinta, Washington. Buah ini mulai dibudidayakan oleh Washington State University dari dua jenis cherry yaitu the Bing dan Van.”Ia mulai menerangkan dengan berapi-api.

 

“Namanya mirip dengan nama gunung di Seattle yah.”

“Namanya memang diambil dari nama gunung tersebut.”

“Wah kita malah jadi picnic. Oh lihat, warna cherrynya cantik sekali.” Terpesona akan perpaduan  warna buttercup dengan semburat merah dan pink dibalut kulit yang sangat lembut.

 

Daniel mengeluarkan buku kecilnya dan mulai menulis sembari memandangi saya yang sibuk menikmati baursak.   Dalam genggaman tangan kanan baursak diberi topping cherry dan ditangan kiri dicelupkan kedalam kopi versi student ala kami.

 

“Ini namanya balanced diet, roti in both hands.” Tersenyum dengan mulut masih mengunyah menikmati sarapan. Daniel tertawa terbahak-bahak dan kembali focus menggerakkan pena di buku kecilnya.

 

“Kamu menulis tentang apa sampai bisa senyum-senyum sendirian ?”

“ Saya menulis tentang cuplikan hidup saya yang ada moral storynya. Suatu waktu nanti pasti akan bermanfaat bagi orang lain.”

 

Wow amazing, tidak terbayang jika saya harus menulis karena cuma pandai menulis surat cinta.” Tertawa terkekeh dan menyodorkan baursak yang telah dicelupkan kopi kepada Daniel.

 

“Menulislah seperti kamu menulis surat cinta, sepenuh hati sehingga tulisan yang kamu  hasilkan akan  mengalir lembut di hati pembaca. Selembut air yang menetes dari tebing hingga ke bawah bukit. Remember, tulisan  adalah cara untuk merekam sejarah. Rekamlah hal yang bisa bermanfaat untuk orang lain.”

 

Saya serius mendengar dan kembali menyodorkan baursak, kini dengan topping cherry.

 

“Kenapa kamu tidak menyimpan pengalaman hidup kamu untuk diri sendiri saja?  Apakah kamu tidak masalah others can get something so easily that it took years for you to learn ?” Saya menatap dengan wajah bingung.

 

“Sarah, Mohammad Ali pernah berkata  service to others is the rent you pay for your room here on earth.”

 

Percakapan singkat itu mengingatkan saya kembali bahwa my knowledge only has value when I utilise it for its true purpose. If I don’t share it with others, it is like a closed and dusty book, it’s gonna be useless. 

 

I need to share my knowledge and learnings of life. The more I spread the word of wisdom, the more I see my self-growth.

Daniel, thank you for the sweet reminder.

 

“I genuinely  never start making a content  to build a brand or to build a business. Don’t just think of what people want to know after watching something. Before I am making any piece of content, I need to ask myself, how do I want someone to feel after this. It’s easy to post online. But it’s much harder to create a meaningful, intentional, and emotional content. The key is to always remain true to yourself and your values.”

Jay shetty

 

May 18th, 2022

Bagikan ini:
error: Content is protected !!