We remember differently, yet we smile for the same reasons.”
Saya mengingat kembali jalan cerita serial itu yang perlahan muncul dari ingatan. “If I remember correctly, there were four women who loved him.” Staff wanita dari booth Hong Kong di samping saya langsung menoleh.
Pemilik booth perhiasan pun ikut tersenyum, seolah percakapan itu tanpa sengaja membuka kembali potongan masa kecilnya. “I remember that one” katanya sambil terkekeh pelan.
Saya mengangguk. “I think, in the end, he chose Thio Beng.” Ia langsung tersenyum lebar.
“Of course. The Mongolian princess. She could be spoiled, stubborn and fearless at the same time. She knew what she wanted and she never pretended to be anyone else.”
Saya hanya mengangguk sambil tersenyum. Ternyata, serial itu rupanya bukan hanya menemani masa kecil saya. Di negara yang berbeda dengan cerita yang sama ternyata juga pernah mengisi masa kecilnya.
Untuk sesaat, booth itu terasa lebih hangat. Kami berasal dari tempat yang berbeda, tumbuh dengan bahasa yang berbeda tetapi tanpa disadari pernah menunggu episode berikutnya dari cerita yang sama.
Barangkali memang ada cerita yang tidak pernah benar benar menjadi milik satu bangsa. Cerita itu berpindah dari satu rumah ke rumah lain dan dari satu bahasa ke bahasa lain lalu diam diam meninggalkan kenangan yang serupa.
“A childhood memory can speak every language.”
Part 35.

