“A shared moment becomes a personal memory.”
Setelah keramaian itu perlahan mereda, lorong kembali seperti semula. Cahaya lampu di atas etalase terasa lebih lembut sementara suara langkah pengunjung kembali menjadi ritme yang tenang.
Saya dan team dari booth Hong Kong sama sama sedang membereskan booth masing masing. Meja kembali rapi dan suasana terasa jauh lebih santai setelah beberapa menit sebelumnya dipenuhi orang.
Di sela pekerjaan itu kami sempat saling menoleh dan tersenyum kecil. Saya lalu menghampiri booth mereka. “That was quite something.” Ia tertawa pelan. “It happens.”
Saya ikut tersenyum. “I’ve never seen people gather that quickly.” Ia menutup salah satu box di depannya, lalu mengangkat bahu. “People are curious. Once someone stops, others stop too.”
Saya menoleh ke lorong yang kini kembali lengang. “And then a few minutes later… it’s over.” Ia mengikuti arah pandangan saya. “Yeah. But everyone walks away with a different story.” Saya tidak langsung menjawab.
Lorong itu memang kembali seperti semula. Booth booth kembali sibuk dengan pengunjung yang datang silih berganti. Namun kalimat itu terus teringat.
Mungkin memang begitu. Sebuah moment tidak selalu bertahan di tempat ia terjadi. Yang bertahan justru cerita yang dibawa pulang oleh setiap orang yang pernah berada di sana.
“Memory is the diary that we all carry about with us.” Oscar Wilde
Part 30.

