“A single face can belong to countless stories, each remembered by a different heart.”
Saya tertawa kecil, seolah baru mengingat sesuatu. “Wait… Tony Leung? The husband of Carina Lau?” Ia mengangguk. “Yeah.” “Oh, that brings back my childhood.”
Raut wajahnya berubah penasaran. “Really?” “He was Thio Bu Ki in the series To Liong To. I grew up watching it.” Ia mengernyit pelan lalu tertawa kecil. “I don’t think I know that one.”
Saya ikut tertawa. “Ah, you’re still really young. Maybe your parents know it.” Ia tersenyum sambil mengangkat bahu. “I’ll have to ask them when I get back to Hong Kong.”
Kami sama sama tertawa. Entah mengapa, percakapan itu tiba tiba terasa lebih akrab. Perbedaan usia yang sempat ada justru berubah menjadi bahan candaan kecil.
Saya kemudian menyadari betapa menariknya cara sebuah nama bekerja. Bagi saya, Tony Leung langsung membawa ingatan kembali ke ruang keluarga, ke layar televisi dan ke masa ketika sore terasa jauh lebih panjang.
Sementara bagi dirinya, nama itu hanyalah bagian dari keseharian di Hong Kong.
Barangkali memang begitu cara kenangan menemukan tempatnya. Orang yang sama bisa hidup dalam cerita yang berbeda. Yang berubah bukan sosoknya melainkan waktu yang mempertemukan kita dengannya.
“The people we remember are often windows to the lives we once lived.”
Part 33.

