“The fragrance always stays in the hand that gives the rose.” – Hada Bejar
Pria itu masih tersenyum saat kami menerima plastic kecil berisi mango sticky rice itu. Saya bisa merasakan kehangatan yang ia bagi bukan sekadar dari makanan, tapi dari caranya berbicara, dari tatapan ramahnya serta dari ketulusan yang begitu nyata tanpa perlu dijelaskan.
Chloe memeluk wadah plastic itu sejenak, seolah menyadari nilai dari apa yang baru saja diberikan kepadanya. Lalu, dengan mata berbinar, ia menatap pria itu dan bertanya polos, “Does your wife like cooking, Sir?”
Pria itu tertawa kecil, lalu mengangguk. “Oh, she loves it! Dia selalu bilang, makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal berbagi. Katanya, setiap hidangan yang dibuat dengan cinta akan selalu membawa kebahagiaan bagi yang menerimanya.”
Saya tersenyum, meresapi kata-katanya yang sederhana namun dalam maknanya. “Seperti bunga,” lanjutnya, “walau makanannya telah diberikan kepada orang lain, wanginya tetap tinggal di tangan istri saya.”
Saya menatapnya sejenak, memahami maksudnya. Kebaikan itu bukan sesuatu yang hilang saat dibagikan. Ia justru menetap, menghangatkan hati yang memberi, seperti jejak wangi mawar yang masih tersisa di jemari yang pernah menggenggamnya.
Saat kami beranjak pergi, Chloe menggenggam wadah plastic itu dengan hati-hati. Yang ia terima hari ini bukan hanya sekadar makanan, tapi sesuatu yang jauh lebih manis yaitu sebuah pelajaran bahwa kebaikan selalu meninggalkan jejaknya, baik di hati yang memberi maupun di hati yang menerima.
Dan mungkin, seperti wangi bunga mawar yang menetap di tangan, kebaikan ini akan bertahan lama, mengalun lembut dalam ingatan, siap untuk kembali dibagikan suatu hari nanti.
“A gift given with heart never fades, its warmth lingers long after.”
Part 7.

