“Sometimes, a stranger doesn’t just open a door. They reveal a path to unexpected stories, turning a fleeting encounter into a lasting journey.”
Kami memperkenalkan diri. “Saya Sarah.” “Ayu.” Mbak Ayu menyodorkan tangan, lalu Lia ikut menjulurkan tangannya.“Lia.” “Kami dari Indonesia, nanti bisa datang ke booth kami,” sambil menunjuk ke deretan booth Indonesia di kejauhan.
Ia menyambut dengan ramah, lalu tanpa ragu membuka lembaran cerita di antara gemerlap batu-batu itu. “Silakan lihat-lihat,” tersenyum, sembari membuka sebuah kotak kecil di sudut meja.
Di dalamnya, terhampar batu-batu berkilauan lebih indah dari yang terpajang di showcase. Setiap potongan memancarkan cahaya berbeda, seolah menyimpan kisah tersendiri dalam lapisan warnanya.
“Kami hanya melihat-lihat, tidak perlu repot,” ujar saya, sedikit sungkan saat ia mengeluarkan satu per satu permata dari kotaknya. Tapi ia hanya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, saya ingin menunjukkan batu khas Cambodia dan mengapa begitu dikenal di dunia.
Ia mengangkat sebutir ruby merah menyala. “Inilah yang membedakan,” matanya berbinar, seakan membawa kami menyusuri perjalanan panjang batu-batu ini, tentang tanah yang melahirkannya, tentang tangan yang mengasahnya, hingga akhirnya berlabuh di hadapan kami.
Kami menyimak dalam diam, membiarkan kisah itu mengalir dalam bahasa Inggrisnya yang fasih. Saat berpamitan, ia menyelipkan sebuah kartu nama ke tangan saya. “Jika masih di Siem Reap, mampirlah ke factory kami. Saya akan senang menunjukkan langsung bagaimana semua ini dibuat.”
Saya menggenggam kartu itu, merasakan texturenya yang halus, lebih dari sekadar undangan, itu adalah ajakan untuk melihat keindahan dari akar yang lebih dalam. Saya melirik Mbak Ayu, dan sepertinya kami sudah tahu ke mana langkah akan membawa kami esok hari, sepulang dari market.
“A simple conversation with a stranger can open doors to unexpected stories, turning an ordinary day into a memorable journey.”
Part 8.

