0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The rarest thing in life is to be still, without the need to justify it.”

 

Halte itu lengang. Angin pagi lewat pelan, menyusup di antara sela bangku besi yang dingin. Saya dan Michael duduk bersebelahan, tapi masing-masing larut dalam sunyi yang familiar, seperti dua sahabat yang tak lagi butuh banyak kata untuk saling mengerti.

 

Orang-orang berlalu di depan kami, langkah mereka cepat, mata mereka sibuk. Mereka membawa tas berat, napas tergesa, dan urusan yang tak sempat kami tebak. Sementara itu, kami tetap duduk di sana, tidak tergesa, seperti dua titik koma yang memilih berhenti sejenak, menolak diakhiri terlalu cepat.

 

Michael mengembus napas pelan, menatap ke jalan yang masih kosong. “Kapan terakhir kali kita duduk tanpa alasan?” katanya lirih, seperti bertanya pada pagi. Saya menoleh dan tersenyum. “Mungkin ini pertama kalinya. Saya duduk bukan karena lelah, tapi karena ingin diam.”

 

“Not because we’re waiting for the tram, not because my legs are tired, just needed to stop for a bit, no explanation needed.” Saya berkata pelan, masih menerawang. Michael mengangguk, diam-diam seolah mengerti, lalu ikut menatap ke kejauhan.

 

“Funny, isn’t it? We’re always in a rush, even sitting down has to come with a reason. Menunggu tram, menunggu orang, menunggu giliran. Tapi duduk hanya untuk duduk… itu jarang.” Tambah Michael.

 

Kami pun kembali diam, tapi diam kali ini terasa utuh. Seperti tubuh dan pikiran akhirnya selaras, saling mengalir tanpa saling mendorong kemana-mana. Tak ada kata yang memotong moment itu dan tak ada yang perlu dijelaskan.

 

Saat itu kami merasakan betapa langkanya bisa benar-benar diam, hanya karena memang ingin diam. Seperti waktu yang membeku sejenak, memberi ruang bagi keheningan untuk mengisi, dan kami hanya ada di sini, di saat ini.

 

“The beauty of stillness lies in its power to let us breathe, free from the need for words.”

Part 22.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!