0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Life, like tea, unfolds its essence sip by sip, some flavors only reveal themselves with time.”

 

Pelayan kembali menghampiri meja sebelah, membawakan pesanan dengan gerakan cekatan. Di luar, gerimis mulai jatuh, mengetuk lembut kaca jendela kopitiam. Saya melirik ke arah jalanan yang mulai basah, lalu kembali menyesap tea tarik halia yang  masih mengebul.

 

Saya meniup permukaannya perlahan, membiarkan aroma jahe yang samar bercampur dengan buih tea yang lembut. “Hidup itu seperti secangkir tea,” kata wanita berkerudung biru, mengaduk minumannya pelan. “Kadang kita tahu bahannya, tapi rasanya tetap bisa mengejutkan.”

 

Saya tersenyum, mengangkat gelas dan menyesapnya kembali. Hangatnya menjalar perlahan, diikuti sengatan pedas halus dari jahe yang menyelinap di tenggorokan. Awalnya lembut, hampir manis, tapi semakin lama, semakin terasa, menghangatkan dari dalam.

 

“Jahe selalu begitu,” gumam saya, menatap permukaan tea yang sedikit beriak. “Awalnya terasa biasa saja, tapi setelah beberapa teguk, barulah kita menyadari betapa kuat dan menghangatkannya.”

Wanita itu mengangguk. “Seperti kenangan,” katanya. “Kadang samar di awal, tapi semakin kita menyelaminya, semakin dalam ia terasa.” Ia tersenyum kecil, menatap uap yang perlahan memudar dari gelasnya.

 

Saya diam, membiarkan kata-katanya larut bersama hangatnya tea yang masih tersisa. Mungkin memang begitu, tidak semua hal dalam hidup harus dimengerti seketika. Seperti tea halia ini yang manis di awal, lalu perlahan menghadirkan jejak pedas yang merayap hangat di tenggorokan.

 

Hidup pun serupa. Ada saatnya lembut, ada kalanya menyentak, dan sering kali, maknanya baru terasa belakangan. Tak semua perlu dikejar jawabannya. Kadang, cukup dirasakan, dinikmati, dan dibiarkan mengalir.

 

“Just as tea reveals its depth with every steep, life unveils its meaning with time.”

Part 10.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!