0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Some journeys take flight in the air, others in the heart.”

 

Angin pagi masih berembus lembut ketika Chloe menatap jauh ke cakrawala, matanya mengikuti siluet burung yang melintas di langit. Ia menggenggam pagar balcony dengan jemarinya yang mungil, seakan ingin merasakan lebih dalam moment ini.

 

Cahaya matahari yang masih malu-malu jatuh di wajah Chloe, membingkai siluetnya dalam kehangatan yang lembut. “Mama, how come birds get to fly anywhere, but we don’t?” tanyanya dengan suara yang nyaris tenggelam dalam riuh rendah kota yang mulai berdenyut.

 

Saya tersenyum, mengikuti arah pandangnya. “Karena mereka punya sayap, sedangkan kita punya sesuatu yang berbeda, sayang.”Ia menoleh, matanya dipenuhi rasa ingin tahu. Keheningan sejenak mengisi jarak di antara kami, membiarkan pertanyaannya melayang seperti burung itu, ringan, mencari arah.

 

Lalu, dengan suara yang lembut, saya melanjutkan, “Burung terbang karena itulah caranya menjelajahi dunia. Tapi manusia… manusia punya langkah, punya pilihan. Kita mungkin tidak memiliki sayap, tapi kita bisa ‘terbang’ dengan keberanian untuk melangkah.”

 

 

Ia menggigit anggurnya lagi, kali ini lebih pelan. “Jadi kalau saya ingin pergi jauh, saya harus berani melangkah?” Saya mengangguk. “Bukan hanya pergi jauh, sayang. Tapi juga berani menghadapi hal baru, berani mencoba, berani gagal, dan berani bangkit lagi.”

 

Chloe termenung, lalu menatap kembali burung yang kini hanya titik kecil di langit. Angin membelai rambutnya yang tersibak, membawa aroma pagi yang mulai hangat.

 

Mungkin hari ini ia hanya memahami setengahnya. Tapi suatu hari nanti, saat ia berdiri di persimpangan jalan kehidupan, saya harap ia akan mengingat pagi ini, disaat seekor burung mengajarkannya bahwa kebebasan bukan hanya tentang pergi, tapi tentang keberanian untuk melangkah.

 

“The sky belongs to birds, but the world belongs to the brave.”

Part 11.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!