0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Brands mature over time, like a marriage. The bond you feel with your spouse is different than when you first met each other. Excitement and discovery are replaced by comfort and depth” -Gary Vee

 

Matahari bersinar, namun cahayanya tetap lembut menyinari kota Basel di hari Sabtu pagi. Sepulang dari library, saya langsung menyambar coat orange sambil berlari kecil. Saya masih sempat menengok ke belakang dan melambaikan tangan sambil tersenyum ke kedua sahabat setia saya, Michael dan Tilahum.

 

Sambil tetap  berlari kecil saya menyeberangi rel kereta dan menunggu bus yang akan membawa saya ke airport yang letaknya di perbatasan Swiss dan Perancis.

 

Udaranya cukup dingin, sekitar 18 degree celcius. Namun, hati saya sangatlah warm tak sabar menanti kedatangan Chris. Begitu pesawatnya landing, saya langsung berlari kencang menghampirinya. Chris day trip dari Belanda khusus untuk special dinner kami di Blinde Kuh restaurant.

 

Restaurant ini sangat special karena semuanya, baik waiter dan chef, adalah tuna netra. Saat kami sampai di restaurant, kami dipersilakan untuk memilih dari tiga menu yang tersedia, yaitu vegetarian, non vegetarian, dan mistery menu. Kami memilih mistery menu.

 

Setelah itu, kami diberi kunci locker untuk menaruh tas. Tak lama menunggu, datanglah salah satu waitress yang juga tuna netra. Chris lalu memegang bahu waiter dan saya memegang bahu Chris sehingga kami berjalan  berbaris menuju ruangan yang sangat gelap gulita. Saking gelapnya saya bahkan tidak bisa melihat tangan saya saat mengibaskannya di depan wajah sendiri.

 

Waiter melayani kami dalam kegelapan dan jika membutuhkan sesuatu, kami cukup membunyikan bel yang diletakkan di meja. Makanan yang dirasakan saat saya mematikan sense penglihatan sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Keempat indra yang lain semakin kuat berfungsi.

Saat sedang menikmati makanan, waiter datang sambil membawakan sebuah kotak. Setelah meraba, saya berhasil membuka dan tiba-tiba terdengar birthday song. Ternyata itu adalah sebuah kotak musik. Di bawah kotak musik itu terdapat empat botol kecil. Di saat saya dan Chris bernyanyi kecil mengikuti irama lagu, waiter meminta kami untuk memilih surprise birthday gift untuk Chris.

 

Tak lama setelah birthday music berhenti dari kotak tersebut, tiba-tiba terdengar kalimat yang  ditujukan kepada saya, “Sarah, you are not my number one. You are my only one. Sarah Dewi, will you marry me?”.

 

Seketika itu juga seluruh sendi-sendi dalam tubuh saya seperti langsung luruh dan dada saya bergemuruh karena bahagia. Kata  indah tersebut terdengar lebih jelas di tengah kegelapan. Tidak hanya di telinga saya, hati saya pun seakan-akan memiliki pendengaran dalam kegelapan itu. Saya bisa merasakan rasa cinta dan harapan dalam sebaris kalimat proposenya berkumandang ke seluruh tubuh saya.

 

Saat saya mengiyakan lamaran tersebut, lalu Chris meraih tangan kiri saya sambil mencoba memasukkkan cincin ke jari manis saya. Walaupun saya tidak bisa melihat wajahnya, namun saya bisa merasakan hembusan nafasnya yang penuh kegembiraan karena telah mewujudkan mimpi saya untuk  dipropose di depan umum. Chris bahkan membuatnya lebih indah dari mimpi saya karena saya bisa merasakan ketulusan dari rangkaian kata tersebut.

 

Tepukan tangan dari sekitar langsung membahana di dalam ruangan dan suara ucapan selamat terdengar dari segala penjuru. Tak henti-hentinya air mata penuh haru dan bahagia mengalir dan membasahi pipi saya atas perjuangannya untuk menciptakan moment sakral ini.

 

Walaupun suara di sekeliling kami cukup noisy karena segala percakapan terdengar lebih jelas dalam kegelapan, tapi tidak mempengaruhi syahdunya malam itu. Kami seakan terbawa ke dalam dimensi yang lain, dimana kami saling menatap dengan menggunakan mata hati.

 

Cinta adalah gerakan sigap tangannya saat itu untuk memastikan yang mana pisau,sendok dan garpu sehingga tidak akan melukai tangan saya. Cinta adalah  makanan yang dinikmati berdua secara perlahan, gigitan demi gigitan masuk ke tenggorokan. Cinta adalah suara lembutnya setiap menyebut nama saya. Cinta adalah aroma soup yang ditiupnya sehingga tidak panas saat masuk ke mulut saya. Dalam kegelapan, saya bisa menyelami semua rasa tersebut lebih dalam.

 

Dalam kegelapanlah saya juga bisa membedakan bahwa mata yang nikmat adalah nafsu dan hati yang nyaman adalah cinta. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta tanpa balutan nafsu belaka. Kadang nafsu bisa menyamar menjadi cinta. Ia akan tersibak dari samarannya di saat rasa jenuh tiba. Saat nafsu melangkah pergi, cinta akan selalu menemani karena cinta tidak hanya menggunakan mata, tapi keempat indra yang lain.

 

Cinta itu adalah rasa dan sebuah rasa akan semakin kuat jika seluruh indra ikut andil dalam memaknainya.

 

Sarah Beekmans, November 11th, 2017

 

sarah beekmans marriage

Bagikan ini: