0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“I am a huge believer in giving back and helping out in the community and the world. Think globally, act locally I suppose. I believe that the measure of a person’s life is the effect they have on others.”

Steve Nash

 

Di saat saya mendarat untuk pertama kalinya di Zurich Airport , hati ini membuncah penuh kebahagian. Zurich Airport memang  tidaklah semegah airport di Eropa pada umumnya yang telah sering kali saya singgahi seperti Schiphol airport di Amsterdam, Charles de Gaulle di Paris atau München airport di dekat kota tua Freising.

 

Swiss adalah negara yang sangat special di hati karena saya lahir dengan segala macam novel termasuk salah satunya dari Johanna Spyri yaitu Heidi, girls of the Alps.

 

Keindahan alam Swiss begitu jelas di gambarkan dalam rangkaian tulisannya yang membangun imajinasi indah di hati saya. Novel tersebut membuat saya menghayal bahwa suatu saat  kelak saya tidak hanya datang ke Swiss, tapi juga harus tinggal dan menikmati sejuta pesona alamnya yang telah terpatri indah dalam barisan kata kata yang berhasil dibangun oleh  Spyri di dalam benak saya.

 

Setelah tiba di Zurich airport, saya menyempatkan diri melebarkan tangan saya ke udara dan menghirup udara dalam dalam. Wangi lembaran kertas dari novel masa kecil tetap masih lekat dan basah di ingatan dan hari ini lembaran kertas tersebut seakan menjadi tiga dimensi di hadapan saya.

 

“Switzerland, here I am” saya berteriak dan tertawa kegirangan sambil melompat kesana kemari. Orang sekitar tampak ada yang menengok karena melihat saya agak aneh tapi saya tidak peduli karena mimpi masa kecil saya telah terwujud.

 

Saat itu udara sangat dingin sampai menusuk ke kulit terasa bahkan sampai ke tulang. Perubahan udara dari Indonesia dengan iklim tropisnya tiba tiba berganti dengan iklim musim dingin cukup membuat kulit saya agak terkejut. Saya lalu makin merapatkan coat saya agar lebih hangat.

 

Saya lalu menggeret koper pink saya menuju train station yang letaknya di Zurich airport dan akan membawa saya ke kota Basel, kota yang terletak di perbatasan antara Germany dan France.

 

Sesampainya di stasiun kereta di Basel, saya sudah di jemput oleh salah satu dosen. Wanita tersebut berperawakan tinggi besar dengan rambut blondes ke emasan yang di potong pendek. Di balik wajah ovalnya , tersungging senyum yang sangat ramah.

 

“Nama saya Sarah Dewi, terima kasih telah menjemput saya, Madame.”

“Nama saya Bernadette, apakah kamu dokter”

“Kedua orang tua saya yang dokter dan mama saya mengambil public health di Belanda”

 

“Kenapa kamu tertarik dengan  public health?”tanya Bernadette

 

“Menurut saya dunia mama saya betul betul penuh dengan dedikasi kepada masyarakat. Sejak kecil saya melihat bagaimana perjuangannya  jika sedang kerja lapangan naik turun gunung bahkan sampai melewati hutan untuk mencapai desa desa terpecil demi untuk mencari penderita yang belum terjangkau pelayanan kesehatan. Mama saya selalu menikmatinya, bahkan setiap pulang selalu membawakan saya anggrek anggrek yang di dapatnya dari hutan yang menjadi saksi perjuangannya menembus aral yang melintang demi membantu sesama.”

“Bahkan jika ada pasien yang datang kerumahpun  Ia tak keberatan jika ada pasien yang tak membayarnya sama sekali. Kata mama, menjadi dokter adalah sebuah anugerah dan berprinsip bahwa tugas utama dokter adalah menolong sesama.My mother is my role model”saya menambahkan

 

Saya mencoba mengalihkan pandangan karena malu jika Bernadette melihat muka saya memerah seperti saat ini.

 

Bernadette lalu tertawa kecil, “Ada apa, Sarah? kenapa kamu menangis?”

“Maafkan, saya memang type yang sangat cengeng. Saya selalu terharu setiap membicarakan tentang mama saya dan saya jadi rindu kepadanya karena kita sekarang lagi membicarakan mama  saya”

 

“Kamu baru sampai sudah rindu”jawab Bernadette sambil tetap tertawa.

“Semakin jauh saya meninggalkan mama saya, semakin tergerak hati saya untuk melakukan sesuatu seperti dirinya”

 

Bernadette lalu berkata,”itulah alasan kenapa saya sangat mencintai pekerjaan saya sebagai dosen di kampus ini. Setiap tahun saya bertemu dengan puluhan orang dengan dedikasi tinggi seperti kamu. Apapun yang akan kalian lakukan setelah kembali ke masyakat, kalian adalah malaikat kecil tanpa sayap untuk mereka”.

 

Mata biru lembutnya yang berkilau terlihat di penuhi mutiara transparan di sudut mata yang akhirnya jatuh di pipinya. Buliran air mata tersebut seakan turut jatuh ke sanubari dan terasa hangat sampai di lubuk hati saya yang paling dalam.

 

Selamat Hari wanita internasional untuk my inspiration, mamaku tercinta..

 

 “If we as a community don’t step up to help each other, then who will ?”

Kathy Grimes

 

mama

Bagikan ini: